RADAR PURWOREJO – Tembakau merupakan salah satu bahan baku utama dalam pembuatan rokok. Bagi pecinta rokok, terutama perokok lintingan, mungkin sudah tidak asing dengan tembakau garangan. Tembakau jenis ini menjadi salah satu tembakau berkualitas tinggi dan dijual dengan harga yang mahal.
Tembakau Garangan ini rupanya berasal dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, yang khususnya diproduksi di Kecamatan Kejajar dan Kalikajar. Ada dua desa di Kecamatan Kalikajar yang masih menghasilkan mbako garangan: Desa Lamuk (hanya dua dusun: Semanding dan Lamuk) dan Desa Bowongso (hanya dua dusun: Bakalan dan Bowongso).
Petani tembakau di Kecamatan Kalijajar bisa menghasilkan uang sebesar Rp 15 miliar setiap musim karena harga tembakau garangan ini cukup tinggi. Namun sayangnya, pemasarannya masih belum cukup luas, karena pintu penjualan masih dikuasai pengepul dari Purbalingga.
Mbako Garangan atau tembakau yang cara mengolahnya dengan “digarang” yaitu cara mengolah tradisional dengan cara dijemur kemudian dipanggang. Tembakau dijemur di bawah sinar matahari sebelum akhirnya dipanggang di atas tungku api besar.
Selanjutnya, tembakau akan dicetak di kotak kayu dan dipadatkan setelah dipanggang. Proses ini membuat tembakau garangan memiliki bentuk yang mirip dengan brownies.
Proses penanaman dan pengolahan tembakau garangan ini sangat istimewa. Para petani harus memperhatikan musim dengan cermat agar tembakau yang mereka tanam dapat tumbuh subur dan menghasilkan hasil panen yang optimal. Proses yang yang dibutuhkan untuk pembuatannya pun tidaklah singkat, yakni memerlukan waktu selama 1 bulan.
Untuk digunakan sebagai isian rokok lintingan, terlebih dahulu, tembakau diiris sesuai kebutuhan. Lalu dihancurkan atau digepuk hingga mencapai tekstur bubuk yang halus. Barulah kemudian dilinting dan siap dinikmati.
Bagi yang baru pertama kali mencoba memakai tembakau garangan mungkin akan merasa pusing karena aromanya yang kuat seperti kemenyan yang terbakar. Selain itu, cara menghisapnya sangat berbeda. Karena bara apinya mudah mati dan tampak hitam.
Baca Juga: Agak Laen, Amanda Cole Jadi Seorang CEO tapi Tetap Antarkan Sayur Sendiri Tiap Hari
Mbako garangan yang dijual oleh masyarakat Lamuk adalah untuk dikonsumsi secara langsung, bukan dibuat menjadi rokok pabrikan. Untuk rokok lintingan, mbako garangan lebih mahal dari tembakau kering dan bahkan lebih mahal dari rokok kemasan. Mbako dengan kualitas rendah, dijual sekitar Rp 1 juta per rigen, dan mbako kualitas super harganya bisa mencapai Rp 6 juta per rigen.
Harga tinggi yang ditawarkan tersebut sebanding dengan kualitas dan lamanya panen. Namun, hal tersebut tak menyurutkan peminat tembakau garangan. Justru, peminat tembakau garangan ini semakin meningkat setiap harinya.
(Nadiva Aiszhabella-RADARPURWOREJO)
Editor : Heru Pratomo