KULON PROGO – Satu pelajar di DIY terdeteksi terpapar paham radikalisme dan terafiliasi dengan jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
Paparan tersebut diketahui masuk melalui pola penggunaan media sosial (medsos) yang tidak terkontrol.
Radar Jogja mendapat informasi penangkapan pelajar asal Kulon Progo yang kedapatan memiliki paham radikal.
Pelajar tersebut sempat diamankan oleh Densus 88, akibat tergabung dalam grup whatsapp yang beraliran ISIS.
Mengkonfirmasi hal tersebut, Kasatgas Wilayah DIY Densus 88 yang tak ingin namanya disebut, membenarkan adanya satu temuan pelajar terpapar radikalisme.
Namun, dirinya enggan menyebutkan asal pelajar tersebut.
Pihaknya hanya menyampaikan fenomena dan penangkapan beberapa pelajar terpapar radikalisme.
Baca Juga: Jaringan Peredaran Pil Sapi di Temanggung Ditangkap Aparat, Sejumlah Tersangka Diamankan
"Tahun 2025 ini, ada 110 anak lebih terekrut dalam jaringan radikalisme," ucapnya ditemui Radar Jogja usai mengisi materi, di Aula Adikarta, Kompleks Pemkab Kulon Progo, Selasa (23/12/2025).
Dari 110 anak mayoritasnya merupakan pelajar yang masih duduk dibangku sekolah. Mulai dari pelajar SMP hingga SMA sederajat yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia.
Mereka mengenal pemahaman radikal melalui game online hingga media sosial.
Baca Juga: Langgar Harga Eceran Tertinggi, Dua Produsen Minyak Goreng Kena Tindakan Tegas
Secara rinci, Densus 88 juga telah menangani pelajar di DIY yang terpapar kasus radikalisme.
Pada 2025 ini terdapat lima pelajar yang telah mendapat pembinaan diredikalisasi.
Lantaran, kelimanya telah tergabung dalam beberapa grup whatsapp dan medsos yang berpaham radikal.
"Kami hanya bisa menyebutkan yang baru-baru saja, satu pelajar di wilayah DIY terpapar radikalisme," ucapnya.
Baca Juga: Di Tengah Riuh Perayaan Hari Ibu, Perempuan Pejuang Rupiah Masih Dihadapkan dengan Beban Ganda
Indikasi radikalisme ditemukan, saat melihat aktivitas media sosial milik pelajar tersebut.
Di gadget pelajar, ditemukan grup whatsapp yang diketahui terafiliasi ISIS.
Tak hanya tergabung dalam grup, pelajar ini diketahui menyebarluaskan konten radikal ke grup whatsapp lain.
Targetnya, merupakan grup whatsapp yang berisi anak-anak ataupun teman sebaya. Pelajar tersebut diduga melakukan perekrutan anggota grup baru, untuk menyebarluaskan paham radikal.
Baca Juga: Kemdiktisaintek Perluas Kerja Sama Global, Beasiswa Rusia Dibuka untuk Talenta STEM Indonesia
"Radikalisasinya belum terlalu tinggi, jadi kami bina dan jaga kerahasiaannya sesuai regulasi," jelasnya.
Menurutnya, kejadian radikalisme di kalangan pelajar bersumber dari pola pergaulan di media sosial.
Lantaran, beberapa media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Tik Tok seperti melempar jala.
Remaja dengan aktivitas medsos tinggi, berpotensi terpapar. Mereka akan diarahkan ke dalam grup whatsapp oleh pelaku.
Dari situlah, pemahaman radikal diperkuat. Jika telah tertanam di dalam diri, pelajar akan dibawa ke tindakan terorisme.
Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menyebut potensi radikalisme di kalangan pelajar mulai terlihat.
Ini terbukti dari temuan satu pelajar di Kulon Progo terpapar paham radikal melalu media sosial.
"Itu cukup terbatas, silakan tanya ke densus," ungkapnya. (gas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita