JOGJA – Di tengah pelaksanaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) pada bulan Ramadan 26 Februari hingga 3 Maret, panitia melakukan penyesuaian penyelenggaraan terutama pada sektor kuliner.
Salah satunya berupa pemisahan zona kuliner halal dan nonhalal.
Wakil Ketua Pelaksana PBTY XXI Subekti Saputro Wijaya mengatakan, pada perhelatan tahun ini ada total 172 stand kuliner.
Dari jumlah itu 30 di antaranya merupakan stand kuliner non halal. Serta 142 stand kuliner halal yang dapat dinikmati masyarakat umum.
Dalam even ini, panitia telah menerapkan zona kuliner secara ketat. Kawasan kuliner nonhalal dipisahkan dengan zona kuliner halal.
Kemudian panitia juga mempertegas tanda zona kuliner nonhalal agar memberikan informasi bagi pengunjung PBTY.
Baca Juga: Budaya “Me Time” Makin Populer, Benarkah Kita Makin Lelah?
Selain itu, waktu jam buka antara kuliner halal dan nonhalal juga dibedakan. Khusus untuk kuliner halal sudah dibuka sebelum pukul 17.00. Sementara stand kuliner nonhalal mulai buka setelah pukul 17.00.
“Masyarakat bisa berburu takjil atau kebutuhan buka puasa di bazar kuliner halal,” ujar Subekti saat ditemui di Balai Kota Jogja, Rabu (11/2/2026).
Selain penerapan zona kuliner, PBTY XXI juga dilaksanakan dengan sejumlah kegiatan yang berkaitan bulan Ramadan.
Di antaranya ngabuburit sehat dengan sesi taichi dan zumba bersama. Lalu olahraga lari sore bertajuk Ngabuburun, dan dongeng anak menjelang waktu berbuka puasa.
Subekti menambahkan, panggung pertunjukkan juga dilakukan menyesuaikan pada PBTY tahun ini. Panggung utama akan berada di Jalan Suryatmajan.
Serta menggunakan panggung yang bisa naik turun agar tidak mengganggu lalu lintas di kawasan Malioboro.
Baca Juga: Segar dan Menyehatkan, Buah Semangka Disebut Bantu Cegah Hipertensi
Menurutnya, penyesuaian panggung dilakukan karena lahan kosong yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan PBTY kini sudah dibangun Area Parkir Ketandan.
Kemudian untuk puncaknya di tanggal 28 Februari 2026 dilaksanakan Malioboro Imlek Carnival dengan rute karnaval dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer mulai pukul 20.00.
“Tahun-tahun sebelumnya kami pakai panggung di tengah jalan dan ngeblok jalan,” jelas Subekti.
Baca Juga: Mitos Masyarakat Jawa dan Makna Tersirat di Baliknya, Begini Penjelasannya
Sementara itu, Ketua PBTY XXI Jimmy Sutanto menyampaikan, agenda wisata tahunan tersebut diharapkan bisa mendukung peningkatan pariwisata dan ekonomi di DIY.
Baik itu dari pelaku seni dan budaya, pedagang sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta jasa penyedia akomodasi kamar dan transportasi.
Pun, PBTY merupakan bentuk toleransi dan wujud keberagaman kebudayaan yang ada di Yogyakarta.
Tahun ini mengusung tema Warisan Budaya Kekuatan Bangsa. Serta dikemas dengan sedemikian rupa agar dapat menjadi ruang bersama menanti waktu berbuka puasa dalam suasana yang hangat, edukatif, dan penuh toleransi.
“Melalui kegiatan ini diharapkan semakin menegaskan Jogja sebagai city of tolerance,”tambahnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita