RADAR PURWOREJO - Perbedaan cara berkomunikasi antara orang tua dan Gen Z semakin terasa dalam keseharian.
Bagi sebagian orang tua, menelepon masih menjadi cara paling wajar untuk berbincang.
Sebaliknya, Gen Z justru lebih nyaman berkomunikasi lewat chat.
Perbedaan ini kerap memicu salah paham, meski berangkat dari kebiasaan dan pengalaman yang berbeda.
Orang tua tumbuh di era ketika telepon menjadi simbol kedekatan.
Mendengar suara lawan bicara dianggap lebih hangat dan meyakinkan dibanding sekadar membaca pesan teks.
Telepon juga dipandang sebagai cara paling efisien untuk memastikan pesan tersampaikan dengan jelas, tanpa risiko salah tafsir.
Sementara itu, Gen Z dibesarkan di tengah perkembangan teknologi digital yang cepat.
Sejak usia muda, mereka terbiasa berkomunikasi lewat pesan singkat.
Chat memberi ruang untuk berpikir sebelum merespons dan memungkinkan komunikasi berjalan tanpa harus mengganggu aktivitas lain.
Bagi Gen Z, fleksibilitas ini menjadi nilai penting.
Perbedaan ini juga menyangkut cara memaknai waktu dan ruang pribadi.
Telepon sering kali datang tanpa jeda, menuntut perhatian penuh saat itu juga.
Bagi orang tua, hal tersebut dianggap wajar, namun bagi Gen Z, panggilan mendadak bisa terasa mengganggu, terutama ketika rutinitas harian sudah dipenuhi notifikasi dan tuntutan lain.
Selain itu, chat memberi Gen Z kontrol atas percakapan. Pesan bisa dibalas sesuai kondisi, sementara telepon menuntut respons spontan.
Dalam konteks tertentu, terutama saat membahas hal sensitif, chat dianggap lebih aman karena memungkinkan penyampaian pesan dengan lebih terstruktur.
Meski begitu, perbedaan ini tidak berarti salah satu cara lebih baik dari yang lain.
Telepon tetap memiliki keunggulan dalam membangun kedekatan emosional, sementara chat unggul dalam efisiensi dan fleksibilitas.
Tantangannya terletak pada menemukan titik temu agar komunikasi lintas generasi tetap berjalan lancar.
Perbedaan preferensi komunikasi ini mencerminkan perubahan cara masyarakat berinteraksi.
Dari telepon ke chat, cara berbicara memang berubah, tetapi tujuan utamanya tetap sama, yakni menjaga hubungan.
Memahami kebiasaan masing-masing generasi bisa menjadi langkah awal untuk mengurangi jarak dan membangun komunikasi yang lebih saling menghargai. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva