RADAR PURWOREJO - Istilah “me time” belakangan semakin sering terdengar.
Di media sosial, orang dengan santai membagikan momen minum kopi sendirian, berjalan tanpa tujuan, membaca buku di sudut kafe, atau sekadar menghabiskan akhir pekan tanpa agenda apa pun.
Aktivitas yang dulu kerap dianggap menyendiri atau bahkan anti-sosial, kini justru dirayakan sebagai bentuk perawatan diri.
Namun di balik popularitasnya, muncul pertanyaan apakah budaya me time ini tanda bahwa kita semakin mengenal diri sendiri, atau justru sinyal bahwa banyak orang kian lelah dengan hidupnya?
Perubahan ini tidak muncul begitu saja, tetapi melalui ritme hidup modern yang serba cepat dan membuat banyak orang terbiasa mengejar target, notifikasi, dan ekspektasi.
Waktu terasa selalu penuh, tetapi jarang benar-benar memberi ruang untuk bernapas.
Dalam kondisi seperti ini, me time hadir sebagai jeda sebagai sebuah upaya kecil untuk mengambil kembali kendali atas waktu dan energi yang terkuras.
Bagi sebagian orang, me time adalah momen hening di tengah kebisingan, tidak harus mewah atau produktif.
Duduk diam tanpa membuka ponsel, berjalan kaki sendirian, atau pulang lebih cepat dari biasanya sudah cukup memberi rasa lega.
Aktivitas ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan respon terhadap kelelahan yang sering kali tidak disadari.
Kelelahan yang bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Me time juga menjadi cara untuk menarik diri sejenak, bukan untuk menghilang, melainkan untuk kembali pulih.
Namun, tidak sedikit pula yang memaknai me time sebagai bentuk pelarian.
Ketika rutinitas terasa terlalu berat, waktu sendiri menjadi tempat aman untuk menghindari konflik, tekanan, atau kekecewaan.
Dalam konteks ini, me time bisa menjadi alarm halus bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi, entah beban kerja yang berlebihan, relasi yang menguras energi, atau ekspektasi diri yang terlalu tinggi.
Budaya me time juga menggeser cara pandang masyarakat terhadap kesendirian.
Jika dulu sendirian sering diasosiasikan dengan kesepian, kini maknanya lebih beragam.
Sendiri tidak selalu berarti kesepian dan bersama pun tidak selalu berarti bahagia.
Banyak orang justru menemukan ketenangan saat tidak perlu memainkan peran apa pun.
Tidak ada tuntutan untuk menjadi ramah, produktif, atau menyenangkan orang lain, hanya menjadi diri sendiri, apa adanya.
Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang saat ini mulai sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan batasan diri.
Me time bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan sinyal bahwa banyak orang sedang mencari ruang untuk bernapas di tengah hidup yang terasa makin padat.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah me time itu perlu, melainkan apa yang membuat kita begitu membutuhkannya. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva