RADAR PURWOREJO - Unggahan University of Oxford mengenai penemuan bunga langka Rafflesia hasseltii mendadak menuai kritik dari netizen indonesia.
Pasalnya, dalam postingan tersebut hanya dicantumkan nama perwakilan dari Oxford Botanic Garden and Arboretum, yakni Chris Thorogood, tanpa mencantumkan peneliti Indonesia yang turut berperan langsung dalam ekspedisi tersebut.
Padahal, penemuan bunga yang memerlukan waktu hingga 13 tahun itu juga melibatkan tiga peneliti asal Indonesia, yaitu:
Joko Witono (Badan Riset dan Inovasi Nasional)
Septi Andriki (Pegiat konservasi–pemerhati puspa langka)
Iswandi (Lembaga Pengelola Hutan Nagari Sumpur Kudus)
Ketiganya ikut menembus hutan lebat di Hiring Batang Somi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sumatera Barat.
Perjalanan ekstrem selama 20 jam bahkan turut memasuki wilayah habitat harimau demi menemukan mekarnya bunga langka khas Pulau Sumatera itu.
Warganet Indonesia atau yang akrab dijuluki “Netizen +62” langsung menyerbu unggahan resmi @UniofOxford, mempertanyakan mengapa kontribusi peneliti lokal tidak diakui.
Bahkan momen haru saat Septi Andriki menangis karena bunga tersebut akhirnya mekar setelah13 tahun pencarian, justru tidak disebut sama sekali dalam narasi Oxford.
Gelombang protes semakin meluas ketika mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, ikut menegur Oxford melalui akun X (Twitter).
Ia menuliskan kutipan sindiran yang langsung viral:
“Kepada @UniofOxford, para peneliti Indonesia kita Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi bukanlah NPC. Sebutkan juga nama mereka.”
Desakan publik membuat Oxford akhirnya mengubah postingan Instagram mereka dengan mencantumkan akun peneliti Indonesia, termasuk akun milik Septi (@bujangpalala44).
Postingan TikTok Oxford pun ikut direvisi.
Namun, unggahan di X masih memunculkan versi awal yang tidak mencantumkan nama peneliti Indonesia.
Publik menilai Oxford telah menghapus kontribusi ilmuwan lokal yang sebenarnya memiliki peran penting dalam penelitian flora langka di Indonesia.
Netizen pun mengingatkan bahwa riset internasional semestinya tidak menyingkirkan para peneliti yang bekerja langsung di lapangan. (Silvia Oktaviani)