Ia merupakan praktik sosial yang mempertemukan mobilitas, identitas, dan ketimpangan pembangunan.
Skala fenomena ini sangat besar. Pada Lebaran 2024, jumlah pemudik diperkirakan mencapai 193,6 juta orang, setara 71,7 persen dari total penduduk Indonesia.
Sementara pada 2025, angka mudik tercatat sekitar 154,6 juta orang, atau sekitar 55 persen populasi nasional.
Besarnya angka tersebut menegaskan bahwa mudik adalah pengalaman kolektif.
Dalam praktiknya, mudik mencerminkan relasi khas antara kota dan desa.
Kota diposisikan sebagai ruang kerja, yaitu tempat orang mencari nafkah, membangun karier, dan bertahan secara ekonomi. Hubungan dengan kota sering kali bersifat fungsional, seperti bekerja, tinggal sementara, lalu pergi.
Sebaliknya, desa berfungsi sebagai tempat untuk kembali. Meskipun ditinggalkan karena kurangnya kesempatan kerja dan fasilitas, desa tetap memiliki nilai emosional yang mendalam sebagai tempat keluarga, asal, serta identitas sosial.
Bagi banyak perantau, desa menjadi lebih dari sekadar titik di peta. Itu adalah ruang di mana individu diterima tanpa syarat, sebagai anak, saudara, atau anggota komunitas.
Kegiatan pulang ke kampung halaman berfungsi sebagai simbol untuk menegaskan hubungan tersebut, walau keseharian dihabiskan di kota.
Ikatan emosional ini seringkali lebih kuat dibandingkan hubungan yang bersifat rasional dengan kota. Kota menawarkan pendapatan, namun jarang memberikan rasa kepemilikan.
Di sisi lain, desa, meskipun memiliki peluang ekonomi yang terbatas, memberikan koneksi sosial dan kenangan pribadi yang tak tergantikan.
Pulang kampung dapat berarti sebagai usaha untuk mempertahankan identitas yang perlahan luntur oleh ritme kerja dan kehidupan urban.
Ketika Lebaran tiba, desa mengalami banyak perubahan yang mencolok.
Jalan-jalan yang biasanya sepi tiba-tiba dipenuhi kendaraan pemudik, rumah-rumah direnovasi atau dicat ulang, pengeluaran meningkat, dan kegiatan sosial hidup kembali.
Tradisi silaturahmi, pesta, hingga pertemuan keluarga besar menjadikan desa tampak seperti pusat kehidupan sosial untuk sejenak.
Namun, transformasi ini bersifat sementara, euforia tahunan yang berkurang saat arus balik dimulai.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana desa "hidup" secara periodik, bukan secara berkelanjutan.
Setelah Lebaran berakhir, aktivitas kembali melambat, dan desa kehilangan denyut ekonomi serta kehadiran generasi mudanya.
Momentum pulang kampung belum cukup untuk merubah struktur sosial dan ekonomi desa dalam jangka panjang.
Mudik juga memicu distribusi ekonomi musiman. Uang dari kota mengalir ke desa melalui Tunjangan Hari Raya (THR), oleh-oleh, dan belanja konsumsi.
Meski memberi dampak ekonomi jangka pendek, arus ini tidak menyentuh akar persoalan pembangunan. Pada akhirnya, mudik menjadi cermin relasi kota–desa. Saling bergantung, tetapi belum setara.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.