Penunjukan Mojtaba diumumkan setelah Majelis Ahli Iran (Assembly of Experts), lembaga ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi, menyelesaikan proses pemilihan pengganti beberapa hari setelah kematian Ali Khamenei pada akhir Februari 2026. Pemimpin baru Iran itu resmi mulai menjabat pada 8 Maret 2026.
Ali Khamenei sebelumnya meninggal dalam serangan udara yang menargetkan sejumlah pejabat tinggi Iran di Teheran pada 28 Februari 2026, yang kemudian memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Setelah kematiannya, Iran sempat dipimpin oleh dewan kepemimpinan sementara hingga pemimpin baru dipilih.
Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei dan lahir di Mashhad pada 8 September 1969. Ia dikenal sebagai ulama Syiah sekaligus figur berpengaruh dalam lingkaran kekuasaan Iran selama bertahun-tahun meskipun jarang tampil di ruang publik.
Ia menempuh pendidikan agama di seminari Qom, pusat pendidikan ulama Syiah di Iran.
Selain latar belakang keagamaan, Mojtaba juga memiliki pengalaman militer setelah bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada akhir 1980-an dan ikut terlibat dalam Perang Iran-Irak.
Dalam struktur kekuasaan Iran, Mojtaba selama ini dikenal memiliki pengaruh kuat di balik layar, termasuk dalam urusan politik dan keamanan negara.
Sejumlah analis menyebut ia memiliki hubungan dekat dengan IRGC, institusi militer yang memiliki pengaruh besar dalam politik Iran.
Penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi memicu perdebatan karena dianggap menyerupai suksesi dinasti, sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979 yang menolak sistem monarki.
Meski demikian, keputusan tersebut mendapat dukungan dari kalangan konservatif Iran serta sejumlah institusi politik dan militer yang berpengaruh di negara itu.
Beberapa analis menilai pemilihan Mojtaba menandakan konsolidasi kekuatan kelompok garis keras di Iran di tengah situasi perang dan tekanan internasional.
Stasiun penyiaran nasional IRIB dan kantor berita semi-resmi Tasnim menyiarkan pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut Mojtaba sebagai ahli hukum yang mumpuni dan pemikir muda yang memahami isu politik serta sosial.
IRGC juga menyatakan penghormatan dan loyalitasnya, serta kesiapan untuk mematuhi arahan pemimpin tertinggi tersebut.
Mojtaba Khamenei memulai masa kepemimpinannya di tengah situasi yang sangat kompleks.
Selain menghadapi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran juga sedang mengalami tekanan ekonomi serta ketegangan politik di dalam negeri.
Sebagai pemimpin tertinggi, ia kini memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran, termasuk atas kebijakan militer, keamanan, dan arah politik negara.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.