Konflik tersebut mengancam produksi dan jalur pengiriman energi di Timur Tengah serta mengguncang pasar keuangan global.
Dilansir dari AP News, Harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, sempat melonjak hingga sekitar 119,50 dolar AS per barel setelah perdagangan dibuka kembali di Chicago Mercantile Exchange sebelum turun ke sekitar 112,98 dolar AS.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat mencapai 119,48 dolar AS per barel sebelum turun ke sekitar 110,17 dolar AS, mencerminkan volatilitas pasar energi akibat konflik tersebut.
Kenaikan harga terjadi ketika perang yang memasuki minggu kedua mulai memengaruhi wilayah penting bagi produksi dan distribusi minyak di kawasan Teluk Persia.
Ketegangan meningkat setelah Bahrain menuduh Iran menyerang fasilitas desalinasi yang penting bagi pasokan air minum, sementara depot minyak di Teheran masih mengeluarkan asap akibat serangan Israel pada malam sebelumnya.
Menurut perusahaan riset energi Rystad Energy, sekitar 15 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, biasanya dikirim melalui Selat Hormuz, jalur strategis bagi ekspor minyak dari sejumlah negara Teluk.
Ancaman serangan rudal dan drone di kawasan tersebut hampir menghentikan kapal tanker melintas di jalur itu.
Sejumlah negara produsen seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga dilaporkan mengurangi produksi karena tangki penyimpanan penuh akibat terbatasnya ekspor selama konflik berlangsung.
Lonjakan harga energi sejak serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari turut mengguncang pasar keuangan global.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 7 persen, sementara harga bensin di Amerika Serikat naik menjadi sekitar 3,45 dolar AS per galon dan solar sekitar 4,60 dolar AS per galon, menurut data American Automobile Association (AAA).
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan harga bensin di negaranya diperkirakan tidak akan bertahan tinggi dalam waktu lama.
“Begini, kita tidak pernah tahu persis jangka waktunya, tetapi dalam skenario terburuk ini hanya beberapa minggu, bukan beberapa bulan,” kata Wright dalam wawancara di program State of the Union CNN.
Ia menambahkan harga bensin di AS diperkirakan dapat kembali turun di bawah 3 dolar AS per galon dalam waktu yang tidak terlalu lama. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa jika harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan berat bagi perekonomian global.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.