Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Batara Kala, Anak Batara Guru yang Awalnya Tidak Dianggap sebagai Anaknya

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 26 Juli 2024 - 23:18 WIB
(Gambar wayang Batara Kala, Sumber: Pinterest)
(Gambar wayang Batara Kala, Sumber: Pinterest)

RADAR PURWOREJO - Batara kala sering juga disebut sebagai Buto Kolo. Asal usul lahirnya Batara Kala adalah ketika suatu hari, Batara Guru dan Batari Uma sedang melakukan wisata, atau piknik untuk relaksasi meninggalkan pekerjaan sehari-hari sebagai dewa.

Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk bertamasya mengelilingi dunia dengan menaiki Lembu Andini, yaitu Lembu dengan bulu kuning keemasan. Maka sampailah mereka di pulau Jawa tepat di atas Laut Selatan.

Saat hari mulai senja dengan langit berwarna jingga yang sangat indah, sinar mentari yang berkilau itu menimpa tubuh indah Batari Uma, yang seketika parasnya menjadi semakin cantik dengan kemilau cemerlang, ditambah angin sepoi-sepoi disana menyibak kain yang dipakai Batari uma sehingga memperlihatkan betisnya.

Batara Guru yang lama tidak berhubungan dengan istrinya terbangkit gairahnya. Berkobar-kobar hingga lupa di mana mereka berada sekarang. Sedangkan Batari Uma merasa kalau kegiatan tersebut tidak pantas dilakukan ditempat terbuka.

Namun karena hasrat sudah menguasai Batara Guru, ia memaksa Batari Uma untuk melakukannya, karena dilakukan diatas Lembu Andini di langit hal ini membuat "kama" milik Batara Guru tidak sengaja jatuh ke hamparan lautan. Akibatnya lautan seketika berubah bergolak terbakar api.

Air kama itu membuat laut seperti terbakar mendidih hingga mengeluarkan asap.
Melihat hal tersebut, Batara Baruna sebagai penguasa lautan mengajukan protes apa yang terjadi pada daerah kekuasaannya dengan menghadap ke Kahyangan Argodumilah kepada Batara Guru. Mendapat laporan itu, Batara Guru menyadari bahwa itu akibat “kama salah” miliknya.

Ia memerintahkan Batara Sambu dan pasukan dewa menyelesaikan masalah tersebut. Ternyata laut yang berkobar api itu memunculkan makhluk raksasa yang tidak bisa dikalahkan oleh pasukan dewa. Raksasa itu ganas dan beringas, mangamuk dan menghancurkan apa yang ia sentuh, semua dewa kocar-kacir karena kesaktian raksasa itu, sehingga para dewata harus kabur menyelamatkan diri dan melapor kepada Batara Guru, raksasa itu sedang mencari asal usul dirinya.

Awalnya Batara Guru tidak mengakui bahwa Batara Kala adalah anaknya, namun amukan Batara kala semakin parah sehingga pada akhirnya Batara Guru mengakui sebagai ayahnya dan memberi nama “kama salah” itu Batara Kala, yang akhirnya diberi kekuasaan tinggal di Nusakambangan di laut selatan.

Dalam cerita wayang Nusantara, Batara Kala adalah salah satu tokoh yang memiliki peran penting sebagai makhluk mitologis yang sering dikaitkan dengan waktu dan kehancuran. Karakternya lebih kompleks dan memiliki cerita asal-usul serta peran yang signifikan dalam kosmologi Jawa dan Bali.

Nama Kala berasal dari kata "Kala" yang berarti waktu dalam bahasa Sanskerta Ia dianggap sebagai dewa waktu dan penghancuran, bertugas mengatur siklus hidup dan kematian.
Batara Kala berperan sebagai dewa yang mengendalikan waktu. Ia bertanggung jawab atas perubahan waktu, termasuk siang dan malam, serta pengaturan hidup dan mati.

Sebagai penegak hukum karma, Batara Kala dipercaya sebagai makhluk yang menegakkan keadilan kosmis, menghukum mereka yang melanggar tatanan alam. Dalam beberapa cerita, Batara Kala digambarkan sebagai sosok yang menuntut korban jiwa manusia, terutama anak-anak yang lahir pada waktu sial menurut penanggalan Jawa.

Batara Kala melambangkan kekuatan destruktif waktu yang tidak dapat dihindari, mengajarkan manusia tentang ketidakabadian dan siklus kehidupan. Kehadiran Batara Kala mengingatkan manusia untuk hidup sesuai dengan norma dan hukum alam, karena setiap perbuatan akan mendapatkan balasannya.

Dalam tradisi Jawa, ada upacara yang disebut "Ruwatan," yang dilakukan untuk menetralkan pengaruh buruk Batara Kala, terutama bagi anak-anak yang lahir pada waktu tertentu yang dianggap kurang baik.

Batara Kala sering digambarkan sebagai raksasa dengan wajah menakutkan, mata melotot, dan taring yang menonjol, mencerminkan kekuatannya yang menakutkan dan perannya sebagai pemakan manusia.

Sosok Batara Kala banyak ditemukan dalam relief candi-candi di Jawa, seperti Candi Prambanan, di mana ia sering digambarkan sebagai penjaga gerbang atau pintu masuk, melambangkan penjagaan terhadap kejahatan. Dalam wayang kulit, Batara Kala sering muncul sebagai tokoh yang menantang para pahlawan, menguji keberanian dan kecerdikan mereka.

Secara keseluruhan, Batara Kala adalah sosok yang kompleks dan penting dalam mitologi dan pewayangan Nusantara. Ia melambangkan kekuatan destruktif yang harus dihadapi dengan kebijaksanaan dan kearifan, mengajarkan manusia tentang batasan waktu dan pentingnya hidup selaras dengan hukum alam.

(Rumyanah Irvadia)
Sumber : https://budaya-indonesia.org/

Editor : Iwa Ikhwanudin
#batara kala #Wayang #mitologi jawa