Radar Purworejo - Keraton Yogyakarta terus berupaya menjaga dan memperkaya warisan seni budaya tradisional Jawa.
Salah satu bentuk inovasinya adalah Beksan Suryawijaya, sebuah tarian putra yang baru diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono X.
Beksan Suryawijaya mengadaptasi konsep Beksan Jebeng, dengan empat penari laki-laki yang menggunakan jebeng (semacam perisai) berwarna hitam dengan hiasan bulu merak bergambar tokoh wayang.
Tarian ini memadukan kehalusan karakter dengan sikap yang gagah, terinspirasi dari naskah Wayang Gedhog berangka tahun 1782 yang mengisahkan kisah Panji.
Dalam tarian ini, terdapat dua macam perang, yaitu perang alus dan perang nyata. Perang alus ditampilkan dengan irama yang halus dan tidak tergesa-gesa, menggunakan gendhing ayak-ayak dan srepegan.
Sementara perang nyata disajikan dengan gerakan yang lebih dinamis, diiringi gendhing plajaran.
Beksan Suryawijaya juga menghadirkan berbagai komposisi tari, seperti enjeran, perangan, dan mundur gendhing, dengan ragam gerak seperti kicat dan lintu enggen.
Iringan musiknya menggunakan gendhing-gendhing Pelog Pathet Nem, seperti Lagon Wetah dan Ladrang Gonjang-Ganjing.
Pada tari ini penari mengenakan busana tradisional dengan sinjang bermotif kawung ceplok mangkara dan blangkon cemeng, serta membawa senjata jebeng dan keris.
Tari tersebut adalah harapar agar dapat menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap warisan seni budaya Jawa, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional.
Penulis: Akmal Haidar Alfath