Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Niwatakawaca, Raja Raksasa yang Berambisi Memperistri Bidadari

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 15 Agustus 2024 | 10:29 WIB
Gambar Wayang Raksasa Niwatakawaca (Sumber Gambar: Pitoyo)
Gambar Wayang Raksasa Niwatakawaca (Sumber Gambar: Pitoyo)

RADAR PURWOREJO – Niwatakawaca atau Prabu Niwatakawaca merupakan bangsa raksasa yang tergolong juga dalam mahluk gandarwa (sejenis dengan makhluk supranatural). Niawatakawaca merupakan keturunan dari Prabu Pracona, raja raksasa negara Gowabarong yang tewas dalam peperangan melawan Bambang Tutuka/Gatotkaca di Suralaya. Pada mulanya Niwatakawaca bernama Arya Nirbita

Istilah Niwatakawaca sendiri berarti "baju zirah yang kebal"

Niwatakawaca adalah makhluk yang meneror dunia, penguasa Negeri Imaimantaka, yang terletak di selatan wilayah Atas Angin. Penduduk di Negeri Imaimantaka adalah bangsa tak kasatmata sejenis jin dan gandarwa. Prabu Niwatakawaca berwatak temperamental, mudah marah dan gampang tersinggung meskipun tidak begitu luas wawasan dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Ia mencita-citakan mempersatukan seluruh dunia wayang, tetapi dengan menggunakan upaya-upaya penaklukan, ancaman kekuatan dan kekerasan.

Kehancuran Prabu Niwatakawaca terjadi setelah ia sesumbar untuk menaklukkan Negeri Jonggring Saloka, tempat bermukim bangsa dewa, karena merasa tersaingi dengan negeri Amarta yang dipimpin oleh Prabu Yudistira. Niwatakawaca melihat bahwa negeri Amarta yang baru berdiri beberapa tahun sudah mampu mendirikan istana yang begitu megah dan mengundang jamuan makan selama 40 hari bagi semua raja dan punggawa di seluruh dunia wayang.

Niwatakawaca diceritakan sebagai sosok raksasa pengumbar nafsu yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Selain itu, karena merasa memiliki kesaktian tak tertandingi, Niwatakawaca gemar menakut-nakuti dan mengintimidasi pihak lain yang tidak menuruti kehendaknya.

Niwatakawaca telah menikah dengan Dewi Sanjiwati dan mempunyai dua orang putra. Masing-masing bernama Arya Nilarudraka, yang setelah dewasa menjadi raja negara Tegalparang dan Dewi Mustakaweni. Layaknya sang ayahanda yakni Prabu Pracona, Prabu Niwatakawaca juga gemar mengumbar keangkaramurkaan.

Dengan penuh nafsu angkara murka, Niwatakawaca merasa belum puas jika belum menggandeng Bathari Supraba, bidadari terkemuka Kahyangan. Ia lalu mengutus Patih Mamangdana melamar ke Kahyangan Jonggring Saloka. Dalam mengemban tugas, sang duta disertai bala yaksa pilihan. Ini sebagai antisipasi apabila lamarannya ditampik, kahyangan akan menyerang khayangan.

Di depan gerbang Kahyangan, kedatangan Mamangdana dihadang prajurit dorandara (pasukan Kahyangan). Karena menolak kembali, terjadilah peperangan. Mamangdana sempat mengobrak-abrik pasukan Kahyangan sebelum akhirnya dikalahkan para dewa. Melihat anak buahnya kewalahan, Niwatakawaca turun sendiri ke gelanggang.

Tidak ada satu dewa pun yang kuat menghadapi kesaktiannya. Maka, Bathara Narada terpaksa datang menemui Niwatakawaca di Repatkepanasan, alun-alun Kahyangan. Di sana, Narada dengan khidmat memberi nasihat. Menurut Narada, semua titah di jagat raya ini telah dipasang-pasangkan sesuai dengan kodratnya. Dewa berpasangan dengan dewi, bathara dengan bathari, kesatria-putri, raksasa-raksesi.

Atas dasar hukum alam itu, Narada mengingatkan Niwatakawaca untuk sadar dan tahu diri. Namun Niawatakawaca tetap keras kepala ingin memperistri Dewi Supraba, oleh karena itu Batara Narada kewalahan, sehingga ia mengatakan kepada Niawatakawaca untuk menunggu keputusan dari Sanghyang Manikmaya, atau Batara Guru.

Saat Narada siap melapor, Manikmaya mendahului bertanya, apa gerangan yang membuat Kahyangan terasa panas. Narada menjawab, ada raksasa yang kurang ajar yang meminta Supraba. Di sisi lain, terganggunya ketenteraman Kahyangan juga akibat kegenturan Arjuna bertapa di Indrakila dengan nama Mintaraga.

Manikmaya bersabda bahwa Arjuna yang akan memulihkan Kahyangan. Akan tetapi, sebagai bekalnya, Arjuna mesti lulus serangkaian ujian sehingga benar-benar siap menjadi jagonya dewa untuk mengusir Niwatakawaca. Lalu, diperintahkanlah tujuh bidadari untuk menggoda Arjuna.

Mereka ialah para bidadari unggulan, yaitu Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat. Namun, misi mereka gagal. Tidak seinci pun Mintaraga beringsut dari semadinya. Langkah berikutnya Bathara Indra mengejawantah dengan menyamar sebagai Resi Padya.

Ia menguji Mintaraga dalam hal berbagai ilmu. Lagi-lagi, sang petapa lulus. Lalu, Bathara Manikmaya turun tangan langsung menguji kualitas kesatria Pandawa tersebut.

Karena Niwatakawaca merupakan raksasa yang sangat sakti yang sangst sulit untuk dibunuh, utusan Suralaya pernah mencoba membunuh Niwatakawaca namun gagal, oleh karena itu Batara Guru sangat memikirkan ksatria sakti yang sekiranya dapat membunuh raja raksasa tersebut.

Melihat kualitas Arjuna, manikmaya memutuskan untuk mengutus ksatria itu untuk menghentikan Niwatakawaca. Mendapat perintah tersebut Arjuna memikirkan car acara yang akan dia gunakan, karena Arjuna tahu betul seberapa saktinya Niwatakawaca, maka dari itu ia bekerjasama dengan bidadari Supraba untuk mencari tahu kelehaman sang raja. Dengan bantuan Supraba, Prabu Niwatakawaca membongkar rahasia kekuatannya. Ternyata, rongga mulutnya merupakan kelemahan sang raja jin.

Setelah mengetahui rahasia kematian Niwatakawaca, Arjuna langsung menyiapkan pusaka panah Pasopati di tangan. Ia menantang Prabu Niwatakaca, Barang siapa yang menang akan mendapatkan Dewi Supraba.

Niwatakawaca dengan arogan menerima tantangan tersebut, namun belum sempat bertarung sengit Panah Pasopati menembus langit-langit mulut bertuliskan rajah Aji Gineng Sokaweda, seketika itu juga Prabu Niwatakawaca roboh menemui ajalnya. Atas keberhasilannya membunuh Prabu Niwatakawaca, Arjuna juga berhasil membaca rajah Aji Gineng Sokaweda, sehingga aji yang dapat digunakan untuk mengetahui pembicaraan binatang, menambah kewibawaan dan kesaktian itu dapat diserap oleh Arjuna.

(Rumyanah Irvadia)
Sumber:
-https://tokohpewayanganjawa.blogspot.com

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Raja Raksasa #memperistri bidadari #niwatakawaca #Tokoh wayang