Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Mengenal Ranggawarsita (2) Semasa Kecil Nakal, Gemar Main Judi, Terlahir dari Keluarga Pujangga

Iwa Ikhwanudin • Jumat, 16 Agustus 2024 | 12:52 WIB
ilustrasi Ranggawarsita
ilustrasi Ranggawarsita

RADAR PURWOREJO - Memasuki usia 12 tahun, Bagus Burham alias Ranggawarsita, dikirim ke Pesantren Gebang Tinatar-Tegalsari, Ponorogo untuk belajar ilmu agama di sana.

Sang pengasuh pesantren adalah Kiai Kasan Besari, kiai besar yang tak lain adalah sahabat dari kakek Bagus Burham ketika mereka bersama-sama menuntut ilmu agama.

Kiai Kasan Besari juga merupakan menantu Sunan Pakubuwana IV sehingga nama besarnya tersebar ke mana-mana.

Pesantren Gebang Tinatar pun menjadi tujuan para putra bangsawan untuk mendapatkan ilmu agama.

Kedatangan Bagus Burham di Pesantren Ponorogo ini disambut baik oleh Kiai Kasan Besari, juga teman-teman sebayanya yang sangat menyukai kepribadian Bagus Burham yang mudah bergaul, juga keberadaan Ki Tanujaya yang pintar menghibur anak-anak dengan cerita-cerita dongeng tentang hantu-hantu yang dikuasainya.

Rupanya kebiasaan buruk Bagus Burham tidak berubah meskipun dia sudah berada di lingkungan santri.

Dia malah merasa tidak nyaman belajar agama.

Dia kurang tertarik belajar sehingga tertinggal dengan teman-temannya.

Dia malah suka membolos belajar, pergi ke tempat-tempat yang tidak pantas didatangi oleh santri kecil seperti dirinya.

Bagus Burham suka pergi ke pasar-pasar, bergaul dengan para warok dan duduk berjam-jam untuk mendengarkan para warok itu menceritakan kesaktian mereka masing-masing.

Ki Tanujaya terus mengingatkan anak asuhnya itu agar tekun belajar tapi Bagus Burham tak bergeming, ia tetap menuruti kesenangannya sendiri dan melalaikan kewajiban belajar agama di pesantren.

Kiai Kasan Besari pun tak kurang akal, ia terus mencari cara agar cucu sahabatnya itu bisa sadar dan mau belajar agama dengan rajin.

Namun tetap saja tak membuahkan hasil.

Tak hanya itu, perilaku buruk Bagus Burham akhirnya menular kepada beberapa santri-santri lainnya.

Ini membuat Kiai Kasan Besari geram.

Hukuman pun dijatuhkan, semua santri dilarang mendekati Bagus Burham agar tidak ketularan.

Ini merupakan bentuk pengucilan kepada Bagus Burham agar sadar, namun lagi-lagi hukuman ini tidak membuatnya mengubah perilaku.

Malahan Ki Tanujaya yang merasa kasihan kepada anak asuhnya itu hingga ia sendiri yang mencari akal agar teman-temannya bisa tetap bisa bermain dengan Bagus Burham.

Ki Tanujaya mengundang anak-anak yang lain ke pondokan Bagus Burham, ia ceritakan tentang dongeng makhluk-makhluk halus hingga membuat banyak anak tertarik dan berbondong datang ke sana.

Bagus Burham kembali bisa tersenyum karena banyak teman yang mendatanginya.

Hari berganti hari, Kiai Kasan Besari mendengar ulah Ki Tanujaya yang mengumbar dongeng hantu dan cerita mistis lainnya, yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Kiai marah, dia hendak memberikan pelajaran yang lebih keras, ia suruh Ki Tanujaya pulang ke Surakarta beserta Bagus Burham yang sudah tak bisa diatur lagi.

Sebenarnya Kiai Kasan Besari hanya menggertak saja, dia tidak bersungguh-sungguh berkata demikian.

Tapi Ki Tanujaya merasa bersalah sekali, ia pun memutuskan untuk pergi secara diam-diam dari pesantren itu bersama Bagus Burham.

Seluruh ısı pesantren gempar atas kepergian Bagus Burham beserta pengasuhnya.

Kiai Kasan Besari yang paling bingung, tak tahu apa yang harus ia katakan nantinya kepada kakek Bagus Burham jika mengetahui cucunya itu pergi meninggalkan pesantren tanpa pamit.

Maka saat itu juga ia kirim seorang santri pilihan ke Surakarta untuk memastikan bahwa Bagus Burham pulang ke rumah. ***

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#sejarah ranggawarsita #Ramalan Ranggawarsita #ranggawarsita #ronggowarsito adalah #ronggowarsito #Ranggawarsita adalah #Mengenal ranggawarsita #Raden Ngabehi Ranggawarsita