RADAR PURWOREJO - Dewi Tari merupakan bidadari, putri kedua dari pasangan Bathara Inda, penguasa kahyangan Kaindran (Tempat tinggal para bidadari) dan Dewi Wiyati.
Merupakan putri kedua dari enam bersaudara, yaitu : Dewi Tara, Bathara Jayantaka, Bathara Citragara, Batara Harjunawangsa dan Bathara Citrarata.
Dalam ceritanya, Dewi Tari merupakan Dewi yang diberikan oleh Batara Guru kepada Rahwana salah satu putra Kerajaan Alengka.
Namun dia tidak sendirian, ia bersama dua bidadari lainnya yaitu Dewi Triwati dan Dewi Aswani yang juga diberikan kepada dua putra Alengka lainnya.
Mereka merupakan wujud dari persyaratan perdamaian karena para Dewa kalah dalam menghadapi serangan Prabu Dasamuka atau Rahwana dan para bala tentara Alengka.
Di dalam pernikahannya ia dikaruniai seorang anak bernama Indrajit atau Megananda.
Dalam pendalangan diceritakan bahwannya Indrajit bukan putra dari rahim Dewi Tari.
Ia merupakan putra hasil dari persembahan Wibisana.
Hal ini bukan tanpa sebab, dicerita lain Rahwana atau suaminya kehilangan seorang putri yang sangat mirip dengan pujaan hatinya yang meninggal bunuh diri bernama Dewi Sri atau Widawati.
Karena marah, Rahwana akhirnya berperang dengan para Dewa.
Perang ini menyebabkan para Dewa mengalami kekalahan.
Dia menjanjikan bahwa pujaan hatinya tersebut akan terlahir kembali dan menitis di dalam rahim istrinya yaitu Dewi Tari.
Cerita itu akhirnya sampai di telinga Dewi Tari, ia tak ingin apabila terjadi pernikahan antara ayah dan anak sehingga ia memilih untuk memuja seorang putra sebagai gantinya.
Ia dibantu oleh Wibisana yang akhirnya menculik bayi perempuan tersebut dan memuja putera sebagai gantinya.
Putra yang nantinya akan menjadi penerus kerajaan Alengka tersebut didapatkan dari anak panah rajut ke angkaasa dan menjadi segumpal darah mega yang menjadi cikal bakal dari anak itu.
Sedangkan bayi perempuan Dewi Tari dibuang dengan diselimuti ”Kupat Sinta” ke bengawan Silugangga dan ditemukan oleh Raja Mantili dan diberi nama Dewi Sinta. (Aina Puspita Ningrum)