RADAR PURWOREJO - Batara Cakra adalah putra sulung Sang Hyang Manikmaya dengan permaisuri kedua, Umarakti atau Umaranti.
Ia memiliki dua saudara kandung, yaitu Sang Hyang Mahadewa dan Sang Hyang Asmara.
Dalam dunia pewayangan, Batara Cakra dikenal sebagai dewa yang menguasai hampir seluruh seluk-beluk dan pengetahuan di tiga alam, yang dikenal sebagai Tribuana: Jagat Mayapada (dunia kedewatan), Jagat Madyapada (dunia makhluk halus), dan Jagat Arcapada (dunia manusia di Bumi).
Nama "Cakra" sendiri berarti sebuah bentuk lingkaran yang melambangkan kesinambungan dan keserasian.
Oleh karena itu, Batara Cakra selalu memperhatikan keseimbangan, keselarasan, dan kesinambungan kehidupan di dunia wayang.
Sebagai dewa yang teliti dan cendekiawan, Batara Cakra dianugerahi tugas penting sebagai pujangga kahyangan, yang juga menjadikannya pendamping pribadi ayahnya, Sang Hyang Manikmaya.
Dalam menjalankan tugasnya, Batara Cakra bekerja sama dengan Batara Ganesya, atau Batara Gana yang membina kesustraan dan ilmu pengetahuan.
Batara Gana dilambangkan sebagai dewa pengetahuan dan pendidikan, sedangkan Batara Cakra menjadi lambang dewa sastra dan budaya.
Karena kebijaksanaannya, Batara Cakra dipercayakan oleh Sang Hyang Manikmaya untuk memberikan anugerah berupa pustaka kepada umat manusia di Arcapada.
Salah satu anugerah tersebut adalah Pustaka Kalimasada yang diberikan kepada Prabu Puntadewa, Raja Amarta, dan Kitab Pustaka Jitapsara yang diserahkan kepada Begawan Parasara dari pertapaan Retawu.
Dalam menjalankan tugas-tugasnya, Batara Cakra menjadi sangat paham akan seluk-beluk Tribuana.
Selama hidupnya, Batara Cakra selalu setia mengabdi kepada ayahnya, Sang Hyang Manikmaya.
Ia mencatat semua pembicaraan dan perintah Batara Guru, kemudian menyimpan catatan tersebut dalam pembendaharaan kedewataan.
Kesetiaannya kepada tugas dan keluarga, serta perannya sebagai penjaga keserasian alam, menjadikan Batara Cakra sosok dewa yang dihormati dalam dunia pewayangan.
Editor : Winda Atika Ira Puspita