RADAR PUWOREJO - Dewi Dresanala, putri cantik Batara Brama dan Dewi Rarasati, ia merupakan salah satu bidadari yang tinggal di kahyangan Duksinageni.
Dalam kisah pewayangan, ia menikah dengan Raden Arjuna, salah satu ksatria Pandawa, dari pernikahan ini lahirlah seorang putra bernama Raden Wisanggeni.
Meski jarang ditampilkan dalam pagelaran wayang, kisah Dewi Dresanala muncul dalam lakon Lahirnya Wisanggeni yang penuh dengan konflik dan intrik di kalangan para dewa.
Dalam lakon ini, diceritakan Dewi Dresanala yang tengah mengandung tujuh bulan tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Batara Brama, ayahnya sendiri.
Dengan wajah tegang, Batara Brama membawa pesan dari Batara Guru bahwa Dewi Dresanala harus diceraikan dari Arjuna.
Batara Guru merencanakan pernikahan antara Dewi Dresanala dan Prabu Dewasrani, serta memerintahkan agar kandungannya digugurkan dan bayinya dibunuh.
Mendengar kabar mengerikan itu, Dewi Dresanala kaget dan sedih. Perasaan cemas itu membuat kandungannya bereaksi, hingga bayi yang dikandungnya lahir lebih cepat.
Saat Dewi Dresanala melahirkan, Batari Durga yang juga diperintahkan oleh Batara Guru untuk mengawasi situasi segera membawa Dewi Dresanala ke negara Nusarukmi untuk dirawat sampai pulih.
Setelah sehat, Batari Durga memberitahu Prabu Dewasrani bahwa Dewi Dresanala sudah siap ditemui.
Prabu Dewasrani yang tergila-gila pada Dewi Dresanala segera menemui sang bidadari, berharap cintanya diterima.
Namun, Dewi Dresanala dengan tegas menolak lamaran itu, karena cintanya hanya untuk Arjuna. Tak rela dipaksa, ia lebih memilih mati daripada menjadi istri Dewasrani.
Penolakan ini membuat Prabu Dewasrani tersinggung dan marah, hingga ia memaksa kehendaknya.
Kejar-kejaran pun terjadi saat Dewi Dresanala melarikan diri dari Dewasrani.
Di tengah pelariannya, Dewi Dresanala akhirnya bertemu dengan Arjuna dan putranya, Wisanggeni yang baru lahir dan diiringi oleh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Betapa bahagianya Dewi Dresanala ketika mengetahui bahwa anaknya masih hidup.
Arjuna menjelaskan bahwa bayi tersebut telah diberi nama Raden Wisanggeni oleh Batara Narada.
Kebahagiaan Dewi Dresanala semakin lengkap setelah bertemu dengan putranya yang telah tumbuh menjadi ksatria tangguh.
Namun, momen bahagia itu tak berlangsung lama. Prabu Dewasrani tiba dan segera terlibat dalam pertarungan sengit dengan Arjuna.
Pada awalnya, Arjuna berhasil mengalahkan Dewasrani, tetapi ketika Prabu Dewasrani menggunakan aji pamungkas, Arjuna tak mampu menahan serangan dan tubuhnya mulai menggigil.
Wisanggeni kemudian maju menggantikan ayahnya dan berhasil mengalahkan Dewasrani.
Batara Guru yang tak ingin melihat putranya kalah, menyarankan Dewasrani untuk menggunakan kerisnya, dan ia akan masuk ke dalam keris tersebut untuk membantunya.
Menyadari hal ini, Batara Narada bergerak cepat dan memasuki kapak milik Petruk yang dipinjam oleh Wisanggeni.
Pertarungan antara Wisanggeni dan Dewasrani pun menjadi pertempuran antara dua senjata sakti.
Pada akhirnya, Batara Guru keluar dari keris tersebut, namun aksinya tak luput dari perhatian Semar.
Semar, yang mengetahui ulah Batara Guru, segera mengejarnya dan menghajarnya tanpa ampun.
Puncaknya, Batara Guru dihukum oleh Semar dengan "kentut ajaib" yang begitu busuk hingga Batara Guru melarikan diri dan menghadap Sang Hyang Wenang untuk meminta keadilan.
Sayangnya, Sang Hyang Wenang justru marah pada Batara Guru, menganggap tindakannya yang menuruti keinginan putranya adalah sebuah kesalahan besar.
Kisah ini menjadi pelajaran penting tentang keadilan dan tanggung jawab, meskipun melibatkan para dewa.
Editor : Winda Atika Ira Puspita