Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Wayang Gunungan: Wayang Purwa yang Penuh Makna Kehidupan

Meitika Candra Lantiva • Kamis, 31 Oktober 2024 | 20:42 WIB
Gunungan, Wayang Purwa yang Penuh Makna Kehidupan.
Gunungan, Wayang Purwa yang Penuh Makna Kehidupan.


RADAR PURWOREJO – Dalam perunjukan wayang kulit tidak bisa lepas dari salah satu wayang yang menyerupai gunung, yang sering disebut Gunungan atau Kayon.

Gunungan memiliki peran penting dalam perunjukan wayang yaitu sebagai pembuka dan penutup pertunjukan, juga sebagai tanda pergantian jejeran atau adegan.


Selain fungsinya di pertunjukan wayang, Gunungan adalah simbol Tribuwana atau tiga dunia yaitu dunia bawah, Tengah, dan atas.

Dunia bawah atau disebut Palemahan digambarkan berupa garis tipis memanjang berwarna merah di bagian bawah gunungan, tanpa ada hiasan atau simbol.

Dunia bawah merupakan dunia tempat manusia hidup.

Penggambaran itu memiliki makna bahwa manusia yang berhenti pada tahap ini adalah manusia yang tidak mempunyai makna, hidup hanya tentang duniawi, ragawi, dan tidak mengembangkan aspek rohaninya.

Dunia tengah berupa Lengkeh (cekungan) dan Genukan (sembulan).

Pada bagian ini terdapat gambar pintu gerbang yang tertutup, bermakna tempat penghubung atau batas dunia bawah dengan dunia atas (kahyangan).

Di samping kanan dan kiri gerbang terdapat gambar dua makhluk raksasa bersayap, dengan sayap yang mengembang menyentuh tepi lengkeh hingga genukan mewakili dunia atas dan kepala mewakili dunia bawah.

Sayapnya juga melambangkan sinar matahari, sebagai sumber energi bagi kehidupan.

Dalam pergelaran wayang, digunakan blencong, sebuah tempat penerangan yang juga dihiasi dengan ukiran berupa sayap.


Di samping kanan dan kiri tangga terdapat gambar dua raksasa yang sedang jongkok saling berhadapan dengan satu tanggan memegang sebuah gada atau pemukul.

Dua raksasa ini disebut juga Hyang Cingkarabala dan Hyang Balaupata.

Cingkarabala dan Balaupata sebagai penjaga dikarenakan untuk masuk ke dalam istana tidak mudah, karena banyak rintangan yang harus dilalui.

Bahkan hanya yang berniat baik yang bisa masuk Cingkarabala dan Balaupata ini merupakan saudara kembar yang berwujud raksasa bermata plelengan dan berhidung anyanthik palwa (serupa haluan perahu).

Oleh Bathara Guru, mereka berdua ditugasi untuk menjaga Selamatangkep, yaitu gerbang masuk menuju ke Kahyangan Suralaya.

Meskipun bentuknya menyeramkan, dan wujudnya raksasa, ia bertabiat jujur dan baik hati.

Dunia atas atau disebut Pucuk, digambarkan sebatang pohon yang menjulang sampai ke puncak gunungan, yang disebut pohon hayat.

Pohon hayat menggambarkan wilayah yang suci dan sakral.

Di bawah pohon hayat terdapat kepala raksasa, disebut juga banaspati atau kala makara adalah gambar kepala raksasa yang sedang menjulurkan lidahnya.

Disebut kala makara yang kala artinya waktu, dalam wayang kala adalah bathara kala, sang waktu.

Gambar hewan-hewan yang memiliki banyak makna. Harimau dikenal merupakan hewan buas, suka memangsa.

Sedangkan banteng merupakan hewan jinak pada kehidupan bertani banteng membantu para petani untuk membajak sawahnya.

Harimau dan banteng juga menyimbolkan adanya sifat yang dimiliki manusia, amarah, kejam dan lain sebagainya.

 

Berbagai jenis binatang yang terdapat dalam gunungan ini merupakan wakil dari sifat-sifat yang dimiliki manusia.

Kera yang menyimbolkan ketamakan dan kerakusan.

Burung menyimbolkan dewa dunia atas, melambangkan roh, dan juga melambangkan ketinggian derajat umat manusia.

Gambar bunga di dahan pohon hayat, merupakan yang teratas.

Bunga menyimbolkan keharuman yang terasa tetapi tidak terlihat. (Shofiyullah)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Wayang Purwa #gunungan #Wayang #makna