RADAR JOGJA - Drestaketi merupakan salah satu dari seratus Kurawa yang melegenda dalam kisah Mahabharata, ia dikenal memiliki ikatan sangat erat dengan sepupunya, Durmuka.
Berbeda dengan saudara-saudaranya yang memilih bertempur habis-habisan di medan perang Baratayudha.
Keduanya justru menempuh jalan berbeda, yaitu memilih hidup tenang, menjauh dari hiruk-pikuk perang yang melibatkan keluarga Pandawa.
Sepanjang Perang Baratayudha berlangsung, Drestaketi dan Durmuka memutuskan menjalani hari-hari mereka di sebuah gubuk sederhana, jauh dari medan pertempuran.
Dalam keheningan tempat tinggalnya itu, mereka tetap menjalani keseharian seperti biasa, seolah perang besar yang mengguncang Hastinapura tidak pernah terjadi.
Keduanya enggan menumpahkan darah, lebih memilih kedamaian meskipun berada di pihak Kurawa.
Namun, setelah perang usai dan Pandawa menguasai Hastinapura, keduanya mendengar seruan agar seluruh anggota Kurawa yang masih hidup menyerahkan diri kepada penguasa baru.
Tanpa ragu, Drestaketi dan Durmuka memenuhi panggilan itu, berjalan menuju istana yang kini bernaung di bawah kepemimpinan Pandawa.
Mereka menyerahkan diri dengan ikhlas, menerima nasib sebagai bagian dari Kurawa yang tak lagi berdaya.
Di istana Hastinapura, Drestaketi dan Durmuka menjalani hidup sebagai tawanan.
Namun, waktu yang mereka habiskan sebagai tahanan tidak berlangsung lama.
Setelah beberapa hari, Pandawa, yang terkenal dengan kemurahan hatinya, memberi mereka kesempatan untuk menjalani kehidupan yang normal sebagai rakyat jelata.
Drestaketi dan Durmuka pun menerimanya dengan lapang dada, berjanji pada diri sendiri untuk menghabiskan sisa usia dalam kedamaian.
Mereka menjalani hidup sederhana, jauh dari ingar-bingar dan gelar kebangsawanan, hingga akhirnya menutup usia tanpa keistimewaan apa pun.
Jenazah mereka dimakamkan dengan sederhana, mengisahkan akhir perjalanan hidup dua Kurawa yang memilih jalan damai.
Kisah Drestaketi dan Durmuka menjadi satu cerita unik di tengah peperangan dan perseteruan besar, sebuah kisah tentang pilihan hidup tenang dan damai, meski berada di tengah arus permusuhan yang berkobar-kobar di sekitar mereka.
Editor : Winda Atika Ira Puspita