Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Wayang Kulit: Dari Bayangan Leluhur hingga Warisan Dunia yang Diakui UNESCO

Magang Radar Purworejo • Kamis, 30 Oktober 2025 | 18:15 WIB
Photo
Photo

RADAR PURWOREJO- Istilah wayang dalam bahasa Jawa memiliki makna “bayangan” atau “roh”. Sebagai contoh, akar kata hyang (menunjuk kepada roh/dewa) menjadi salah satu asal usul nama ini.

Pada masa sebelum Hindu-Buddha, keberadaan pertunjukan bayangan semacam wayang dipercaya sebagai bagian dari ritual pemujaan nenek moyang.

Bukti arkeologis menunjukkan seni pertunjukan ini telah ada sejak abad ke-9 Masehi di Jawa relief di candi‐candi Jawa Timur menjadi petunjuk bahwa wayang telah dipentaskan masa itu.

Saat pengaruh Hindu-Buddha memasuki Nusantara, cerita seperti Ramayana dan Mahabharata diadaptasi ke dalam pagelaran wayang.

Ketika Islam berkembang di Jawa, tokoh-tokoh dan lakon wayang juga mengalami perubahan agar selaras dengan nilai keagamaan dan budaya lokal misalnya penambahan tokoh punakawan (Semar, Petruk, Gareng, Bagong).

Dalam pagelaran wayang kulit: terdapat dalang (pelaku utama), layar putih (kelir) sebagai media bayangan, kayu atau kulit sebagai bahan wayang, dan gamelan sebagai pengiring musik.

Filosofi yang terkandung cukup mendalam: layar putih bisa diartikan sebagai dunia manusia, dalang sebagai kontrol atau pengarah cerita, wayang sebagai simbol sifat manusia, dan gamelan sebagai irama kehidupan.

Pada tanggal 7 November 2003, UNESCO menetapkan wayang kulit Indonesia sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Selain itu, bentuk “Pertunjukan Wayang (The Wayang Puppet Theatre)” diakui oleh UNESCO dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda pada 4 November 2008.

Melalui pengakuan UNESCO, wayang kulit memperoleh platform internasional sebagai simbol kebudayaan Indonesia yang khas dan kaya nilai.

Namun, di era modern, tantangan muncul generasi muda cenderung tertarik dengan hiburan digital, durasi pertunjukan yang panjang dan bahasa tradisional menjadi penghambat akses.

Untuk melestarikannya, sejumlah upaya dilakukan digitalisasi pertunjukan, integrasi pendidikan di sekolah, festival wayang dan lomba dalang muda.

Wayang kulit bukan sekadar hiburan ia menyampaikan pesan moral, etika, filosofi hidup seperti kejujuran, pengabdian, persatuan, keberanian. Ia juga mencerminkan identitas budaya Jawa dan Nusantara yang kaya akan akulturasi mampu beradaptasi dari zaman Hindu-Buddha ke Islam dan ke zaman modern tanpa kehilangan jati diri.

Penulis: Adella Haviza

Editor : Bahana.
#wayang kulit #unesco