RADAR PURWOREJO - Dalam setiap pertunjukan wayang kulit, terdapat satu elemen yang selalu hadir di panggung yaitu gunungan.
Bentuknya menyerupai gunung dengan ornamen flora, fauna, dan simbol-simbol tertentu.
Di balik tampilannya yang indah, gunungan menyimpan makna filosofis yang dalam, melambangkan awal, akhir, dan keseimbangan kehidupan.
Gunungan yang dalam tradisi Jawa sering disebut juga kayon yang memiliki peran penting dalam struktur pementasan wayang.
Baca Juga: Pemetaan Sosial Jadi Kunci: Mengapa Keterlibatan Bank Sampah Penting bagi Keberlanjutan PSEL?
Gunungan diletakkan di tengah kelir (layar putih) sebelum lakon dimulai, menandai awal pertunjukan dan membuka jalannya cerita.
Saat pertunjukan berakhir, gunungan kembali dipasang di tengah sebagai tanda penutup lakon.
Selain itu, gunungan juga digunakan untuk menggambarkan adegan-adegan tertentu, seperti hutan, badai, kebakaran, atau suasana genting dalam peperangan.
Dalam konteks itu, gunungan bukan hanya properti, tetapi juga menjadi bahasa simbolik yang dimengerti oleh dalang dan penonton tradisional.
Baca Juga: Modus Baru Peredaran Narkoba di Mojolaban Sukoharjo, Pengedar Pakai Aplikasi Private Messenger
Menurut Dr Sri Rochana Widyastuti, budayawan dan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, gunungan merupakan simbol kosmologis yang merepresentasikan alam semesta dan perjalanan hidup manusia.
“Gunungan melambangkan keseimbangan antara dunia atas dan dunia bawah, antara kebaikan dan kejahatan, antara kelahiran dan kematian.
Di sanalah nilai harmoni Jawa diwujudkan secara visual,” ungkapnya dalam seminar budaya di ISI Yogyakarta (2024).
Baca Juga: Gaji di Bawah UMK, Mengajar 30 Jam Plus Wali Kelas, Nasib Ratusan Guru JLOP di Kulon Progo Tak Menentu
Beberapa makna filosofis yang terkandung dalam gunungan antara lain:
1. Puncak Gunung melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti).
2. Pohon Hayat (Kayon) menggambarkan kehidupan dan keberlanjutan makhluk di dunia.
3. Binatang dan raksasa di bawahnya menandakan kekuatan alam, hawa nafsu, dan sisi gelap manusia yang harus dikendalikan.
4. Gerbang di kaki gunungan menjadi simbol pintu menuju dunia kehidupan dan kematian.
Dalam pandangan budaya Jawa, setiap pertunjukan wayang kulit adalah cermin kehidupan manusia. Gunungan menjadi “peta moral” yang mengingatkan penonton tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa.
Ketika dalang memutar gunungan di awal pertunjukan, itu melambangkan dunia mulai berputar dan kehidupan dimulai. Saat gunungan ditancapkan di akhir lakon, itu menandai kembalinya segala sesuatu kepada asalnya yakni kesempurnaan hidup.
Kini, gunungan tak hanya digunakan dalam pertunjukan wayang tradisional, tetapi juga menjadi ikon budaya Jawa. Bentuknya diadaptasi dalam desain logo, arsitektur, hingga upacara adat.
(Alya Amirul Khasanah)