Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kisah Pandawa: Raden Suyudana Resmi Jadi Pangeran Mahkota Hastina, Intrik Istana dan Kisah Bima Tumbangkan Prabu Baka

Jihad Rokhadi • Senin, 4 Mei 2026 | 14:54 WIB
Bima vs prabu baka
Bima vs prabu baka

 


Raden Suyudana Resmi Jadi Pangeran Mahkota, Istana Hastina Memanas

RADAR JOGJA – Raden Suyudana akhirnya resmi dilantik sebagai pangeran mahkota Kerajaan Hastina. Keputusan ini diambil langsung oleh Adipati Dretarastra dalam sidang istana yang dihadiri para tokoh penting kerajaan.

Pelantikan tersebut berlangsung di tengah kabar duka meninggalnya para Pandawa dan Dewi Kunti akibat kebakaran di Istana Waranawata. Namun, di balik suasana berkabung, keputusan politik tetap berjalan.

Patih Sangkuni menjadi sosok yang paling vokal mendorong pengangkatan Suyudana. Ia menilai, tidak ada lagi pewaris sah setelah para putra Prabu Pandu dinyatakan wafat.

“Sudah selayaknya kerajaan memiliki penerus takhta,” menjadi inti dorongan yang menguat dalam sidang tersebut.

Meski demikian, keputusan ini tidak sepenuhnya diterima. Raden Yamawidura menjadi satu-satunya tokoh yang tidak memberikan ucapan selamat.

Baca Juga: Kisah Pandawa: Ambisi Duryudana Kuasai Amarta, Prabu Kirmira Tewas di Tangan Bima di Hutan Kamyaka


Kecurigaan Yamawidura: Kebakaran Waranawata Diduga Rekayasa

Dalam sidang itu, Yamawidura sempat melontarkan pertanyaan tajam terkait kebakaran di Waranawata. Ia menyoroti kejanggalan jumlah korban yang hanya menimpa Dewi Kunti, para Pandawa, dan Tumenggung Purocana.

Ia juga mempertanyakan keselamatan Patih Sangkuni, Raden Suyudana, dan Raden Dursasana yang berada di lokasi kejadian.

Kecurigaan Yamawidura mengarah pada dugaan bahwa kebakaran tersebut telah direncanakan.

Namun, tudingan itu langsung dibantah Patih Sangkuni. Ia menjelaskan bahwa api berasal dari kecelakaan di kamar Raden Bratasena dan menyebar dengan cepat karena posisi kamar yang berdekatan.

Penjelasan itu memicu ketegangan. Dewi Gandari bahkan menilai Yamawidura telah menghina keluarga kerajaan.

Situasi memanas, tetapi Adipati Dretarastra memilih mengakhiri perdebatan dan tetap melantik Suyudana sebagai pangeran mahkota bergelar Raden Kurupati.


Dipindahkan ke Pagombakan, Yamawidura Jalankan Misi Rahasia

Tak lama setelah pelantikan, Yamawidura justru diangkat menjadi Adipati Pagombakan. Keputusan ini dinilai sebagai langkah politik untuk menjauhkannya dari pusat kekuasaan di Hastina.

Meski demikian, Yamawidura tidak tinggal diam. Ia diam-diam mengutus Patih Jayasemedi untuk menyelidiki keberadaan para Pandawa yang diyakini masih hidup.

Misi tersebut dilakukan secara rahasia dengan penyamaran, demi menghindari pengawasan pihak Kurawa.

Baca Juga: Menelusuri Jejak: Sejarah dan Perkembangan Seni Wayang Kulit Nusantara


Bima Menggila di Ekacakra, Prabu Baka Tewas Mengenaskan

Di sisi lain, para Pandawa yang ternyata masih hidup melanjutkan pengembaraan dengan menyamar sebagai pendeta.

Dalam kondisi serba kekurangan, Raden Bratasena atau Bima menunjukkan peran penting. Ia rela menggantikan seorang pemuda yang hendak dijadikan santapan Prabu Baka, raja raksasa di Ekacakra.

Dengan keberanian luar biasa, Bima menghadapi Prabu Baka dalam pertarungan sengit.

Pertempuran itu berakhir tragis bagi sang raksasa. Prabu Baka tewas setelah dihantam kekuatan Bima menggunakan Kuku Pancanaka.

Kematian Prabu Baka menjadi titik balik bagi rakyat Ekacakra yang selama ini hidup dalam ketakutan.


Pandawa Masih Hidup, Ancaman Bagi Kurawa?

Kemenangan Bima di Ekacakra sekaligus menjadi bukti bahwa para Pandawa masih hidup. Fakta ini menjadi ancaman besar bagi kekuasaan Raden Suyudana di Hastina.

Sementara itu, Yamawidura terus bergerak dalam bayang-bayang untuk memastikan keselamatan mereka.

Intrik politik, perebutan takhta, dan perjalanan penuh ujian para Pandawa kini semakin menarik untuk disimak.

Akankah kebenaran terungkap? Atau justru konflik besar antara Pandawa dan Kurawa tak terelakkan?

Ikuti terus kisah selanjutnya.

Editor : Jihad Rokhadi
#Cerita Wayang #Pandawa #Hastinapura #Budaya #Wayang