Kisah Kelahiran Raden Puntadewa
Kisah ini menceritakan kelahiran putra pertama Prabu Pandu, yaitu Raden Puntadewa yang merupakan sulung dari Pandawa Lima. Kisah diawali dengan Resi Druwasa yang mengubah Raden Seta, putra Prabu Matsyapati, menjadi tiga bayi bernama Raden Seta, Raden Utara, dan Raden Wratsangka. Kisah kemudian dilanjutkan dengan pelantikan Prabu Salya sebagai raja Mandraka, serta awal mula negeri Awangga menjadi wilayah bawahan Kerajaan Hastina.
Lahirnya Raden Utara dan Raden Wratsangka
Prabu Matsyapati di Kerajaan Wirata sedang memimpin pertemuan yang dihadiri oleh putra tunggalnya, Raden Seta, beserta para menteri dan punggawa, di antaranya Patih Kincaka, Arya Rupakinca, Arya Rajamala, dan Arya Nirbita. Hadir pula seorang pendeta tua pengelana bernama Resi Druwasa, yang merupakan guru Prabu Matsyapati.
Resi Druwasa pernah menjadi guru Dewi Kunti saat berkelana ke negeri Mandura pada masa lalu. Kali ini, ia mengembara ke negeri Wirata dan telah beberapa bulan lamanya mengajar Prabu Matsyapati serta Dewi Sudaksina.
Hari itu, Prabu Matsyapati telah menyelesaikan seluruh pelajarannya dan menyampaikan rasa terima kasih kepada Resi Druwasa. Sebelum berpisah, Prabu Matsyapati memohon agar diberi sarana agar bisa memiliki keturunan lagi. Ia mengeluh karena hanya mempunyai seorang putra, sementara mendiang kakak perempuannya, Dewi Durgandini, telah memiliki banyak anak dan cucu. Bahkan, dua cucu dari kakaknya tersebut, yaitu Adipati Dretarastra dan Prabu Pandu, sudah membangun rumah tangga.
Baca Juga: Kisah Pandawa : Sesaji Rajasuya, Bima Menumbangkan Prabu Jarasanda hingga Awal Konflik Besar Kurawa
Di sisi lain, Prabu Matsyapati baru memiliki Raden Seta yang kini telah berusia empat puluh tahun namun belum menikah ataupun memiliki anak. Sehari-hari, sang putra hanya sibuk belajar dan berlatih meningkatkan kesaktian. Oleh karena itu, Prabu Matsyapati memohon bantuan Resi Druwasa agar silsilah Kerajaan Wirata dapat berkembang lebih luas.
Resi Druwasa menyatakan kesediaannya. Ia lalu meminta Prabu Matsyapati memanggil sang permaisuri, Dewi Sudaksina. Setelah Dewi Sudaksina hadir, Resi Druwasa mengheningkan cipta sejenak kemudian menyampaikan ramalannya. Ramalan tersebut menyatakan bahwa Prabu Matsyapati dan Dewi Sudaksina akan mendapatkan tambahan dua orang putra dan seorang putri. Kedua putra tersebut akan tercipta jika Raden Seta bersedia kembali menjadi bayi, sedangkan anak perempuan akan lahir secara normal dari rahim Dewi Sudaksina beberapa puluh tahun yang akan datang.
Prabu Matsyapati dan Dewi Sudaksina kemudian bertanya kepada Raden Seta, apakah ia bersedia dikembalikan menjadi bayi demi mendapatkan adik. Raden Seta menyatakan bersedia, namun dengan syarat ia tidak ingin kehilangan semua ilmu dan kesaktian yang telah dipelajarinya. Resi Druwasa menjelaskan bahwa jika Raden Seta kembali menjadi bayi, ia hanya akan kehilangan kesaktiannya untuk sementara waktu. Kelak setelah dewasa, Raden Seta cukup pergi bertapa ke Gunung Suhrini agar semua kesaktiannya kembali seperti sediakala, bahkan menjadi lebih hebat.
Mendengar penjelasan tersebut, Raden Seta menyatakan siap demi kebahagiaan orang tuanya. Resi Druwasa segera menyiapkan sesaji dan merapalkan mantra. Perlahan-lahan, tubuh Raden Seta menyusut menjadi semakin kecil hingga kembali menjadi bayi. Bayi tersebut kemudian membelah menjadi tiga, yang masing-masing berkulit putih, kuning, dan merah. Resi Druwasa menyerahkan ketiga bayi tersebut kepada Prabu Matsyapati dan Dewi Sudaksina.
Sepasang penguasa Wirata itu sangat bahagia. Bayi berkulit putih ditetapkan sebagai yang tertua dan tetap diberi nama Raden Seta. Bayi berkulit kuning diberi nama Raden Utara, sedangkan bayi berkulit merah diberi nama Raden Wratsangka.
Resi Druwasa kembali bermeditasi dan mengucapkan ramalan selanjutnya. Beberapa puluh tahun lagi, Dewi Sudaksina akan mengandung dan melahirkan anak bungsu berjenis kelamin perempuan dengan kulit hitam manis. Prabu Matsyapati diminta memberinya nama Dewi Utari, yang kelak akan menurunkan raja-raja di Tanah Jawa.
Baca Juga: Kisah Pandawa: Ambisi Duryudana Kuasai Amarta, Prabu Kirmira Tewas di Tangan Bima di Hutan Kamyaka
Ketika Prabu Matsyapati bertanya mengapa Dewi Utari tidak lahir saat ini saja, Resi Druwasa menjelaskan bahwa Dewi Utari akan lahir bersamaan dengan waktu kelahiran jodohnya di masa depan, yaitu Raden Abimanyu, cucu Prabu Pandu Dewanata.
Arya Nirbita Kembali Menjadi Bayi
Namun tiba-tiba, Arya Nirbita memberanikan diri untuk berbicara. Sejak bayi, ia telah ditinggal mati oleh ayahnya, Raden Setatama (saudara laki-laki Dewi Sudaksina). Tidak lama kemudian, ibunya yang bernama Dewi Kandini juga wafat. Setelah menjadi yatim piatu, Arya Nirbita diasuh oleh Prabu Matsyapati dan Dewi Sudaksina untuk dibesarkan bersama Raden Seta.
Arya Nirbita dan Raden Seta adalah teman bermain yang sangat dekat seperti saudara kandung dari sejak kecil. Menyaksikan Raden Seta kini kembali menjadi bayi dan berubah menjadi tiga orang, Arya Nirbita merasa sedih dan kehilangan sahabat. Ia pun memohon agar dirinya juga diubah menjadi bayi agar bisa kembali menjadi teman bermain bagi Raden Seta dan kedua adiknya.
Lalu Prabu Matsyapati meneruskan permohonan keponakannya itu kepada Resi Druwasa. Resi Druwasa terkesan oleh ketulusan Arya Nirbita. Saat mengheningkan cipta, sang resi melihat penglihatan masa depan bahwa Raden Seta, Raden Utara, dan Raden Wratsangka akan gugur dalam perang besar di Tegal Kurusetra, sementara Arya Nirbita akan selamat dan menjadi ahli waris Kerajaan Wirata. Namun, Resi Druwasa tidak tega menyampaikan ramalan duka tersebut.
Tanpa banyak bicara, Resi Druwasa merapalkan mantra dan mengubah tubuh Arya Nirbita menjadi bayi. Bayi tersebut diserahkan kepada Prabu Matsyapati dan Dewi Sudaksina untuk diasuh bersama. Setelah itu, Resi Druwasa berpamitan dan mengatakan bahwa ini mungkin pertemuan terakhir mereka, sebelum akhirnya lenyap secara gaib dari pandangan.
Prabu Matsyapati Mendapat Undangan ke Mandraka
Dan tidak lama kemudian, datanglah utusan dari Kerajaan Mandraka bernama Arya Tuhayata. Ia menyampaikan berita duka bahwa Prabu Mandrapati telah meninggal dunia. Sang putra mahkota, Raden Narasoma, akan dilantik sebagai raja baru setelah mendapatkan restu dari Prabu Matsyapati selaku sesepuh para raja di Tanah Jawa.
Prabu Matsyapati sangat terkejut dan berdukacita. Hubungan antara Wirata dan Mandraka memang sudah terjalin sangat lama; bahkan raja pertama Mandraka, Prabu Kardana Mandrakusuma, adalah mantan punggawa Wirata pada masa pemerintahan Prabu Basukiswara.
Prabu Matsyapati segera berpamitan kepada Dewi Sudaksina. Pesta syukuran atas kelahiran ketiga putranya ditunda hingga ia kembali. Urusan kerajaan untuk sementara diserahkan kepada Patih Kincaka dan Arya Rajamala. Prabu Matsyapati kemudian berangkat dengan dikawal oleh Arya Rupakinca.
Kerajaan Mandraka Diserang Kerajaan Awangga
Sementara itu, pertempuran sedang berkecamuk di Kerajaan Mandraka. Patih Taksana, seorang raksasa dari Kerajaan Awangga, datang untuk melamar Dewi Madrim atas perintah rajanya, Prabu Rudraksa. Raden Narasoma menjelaskan bahwa Mandraka sedang berkabung dan Dewi Madrim sudah menjadi istri Prabu Pandu, sehingga lamaran tersebut ditolak.
Patih Taksana yang merasa membawa mandat penuh mendesak Raden Narasoma agar menceraikan Dewi Madrim dari Prabu Pandu. Sikap lancang ini membuat Raden Narasoma naik pitam. Namun, Patih Tuhayana menahannya dan meminta Raden Narasoma tetap menjaga jenazah Prabu Mandrapati, sementara dirinya yang maju menghadapi utusan Awangga tersebut.
Pertempuran sengit antara pasukan Mandraka dan Awangga pun pecah. Dalam laga tersebut, Patih Tuhayana gugur setelah lehernya digigit oleh Patih Taksana.
Raden Narasoma yang murka hampir terjun ke medan laga, namun tiba-tiba pasukan Hastina yang dipimpin oleh Adipati Dretarastra datang memberikan bantuan. Patih Taksana meremehkan Adipati Dretarastra karena kondisi fisiknya yang tunanetra. Namun, begitu terpegang oleh Dretarastra, tubuh Patih Taksana langsung hancur menjadi abu akibat kesaktian Aji Leburgeni.
Raden Narasoma Dilantik Menjadi Prabu Salya
Setelah keadaan aman, Adipati Dretarastra bersama Dewi Gendari dan Arya Suman menyampaikan rasa belasungkawa atas wafatnya Prabu Mandrapati. Ia juga memohon maaf karena Prabu Pandu, Dewi Kunti, dan Dewi Madrim tidak bisa hadir sebab sedang menjalani masa pengasingan di Gunung Saptaarga untuk membersihkan diri dari kutukan Resi Kindama.
Raden Narasoma memaklumi kondisi tersebut. Tidak lama kemudian, rombongan Prabu Matsyapati dari Wirata, Prabu Gandabayu dari Pancala, serta Prabu Kuntiboja dari Mandura tiba di istana.
Upacara pemakaman Prabu Mandrapati Naradenta pun dilaksanakan dengan khidmat, dilanjutkan dengan upacara pelantikan Raden Narasoma sebagai raja baru dengan gelar Prabu Salyapati Somadenta. Upacara pelantikan tersebut dipimpin langsung oleh Prabu Matsyapati. Setelah resmi bertakhta, Prabu Salya mengangkat Arya Tuhayata sebagai patih baru menggantikan Patih Tuhayana yang gugur.
Setelah beberapa hari, para raja tamu berpamitan. Adipati Dretarastra tidak langsung pulang ke Hastina, melainkan berniat singgah ke Gunung Saptaarga terlebih dahulu untuk menjenguk ayah dan adiknya.
Resi Druwasa Mengunjungi Gunung Saptaarga
Di tempat lain, Resi Druwasa yang telah meninggalkan Wirata kini tiba di Gunung Saptaarga. Kedatangannya disambut hangat oleh Bagawan Abyasa, Prabu Pandu, Dewi Kunti, dan Dewi Madrim. Dewi Kunti secara khusus memberikan penghormatan besar kepada mantan gurunya tersebut.
Kyai Semar kemudian menjelaskan silsilah Resi Druwasa yang ternyata masih kerabat dekat Bagawan Abyasa. Resi Druwasa merupakan keturunan dari Resi Dwapara, yang berakar dari keluarga pendiri padepokan Saptaarga. Karena silsilah ini, Bagawan Abyasa menyapanya dengan sebutan "eyang".
Resi Druwasa menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk berpamitan karena ajalnya sudah dekat. Ia bersyukur karena watak buruknya di masa muda telah luntur berkat bimbingan keluarga Saptaarga, sehingga ia bisa mengakhiri hidupnya sebagai pendeta yang welas asih.
Resi Druwasa Memberikan Sarana Berputra kepada Prabu Pandu
Sebelum meninggalkan dunia fana, Resi Druwasa mengemban perintah dari dewata untuk membantu Prabu Pandu agar bisa memiliki keturunan. Sang resi mengetahui bahwa Prabu Pandu terkena kutukan Resi Kindama yang membuatnya akan tewas jika berhubungan badan dengan istrinya.
Resi Druwasa membawa sebutir Mangga Pertanggajiwa, buah surgawi para dewa. Ia mengupas mangga tersebut, lalu melakukan meditasi untuk menyerap saripati benih dari dalam tubuh Prabu Pandu. Saripati yang berwujud cahaya itu kemudian ditanamkan ke dalam daging buah mangga.
Resi Druwasa meramalkan bahwa Dewi Kunti akan melahirkan tiga putra, dan Dewi Madrim akan melahirkan dua putra. Ia membagi daging mangga tersebut menjadi lima bagian; tiga bagian diberikan kepada Dewi Kunti dan dua bagian kepada Dewi Madrim. Kedua permaisuri langsung memakan bagian mereka masing-masing.
Melalui sarana buah suci ini, benih Prabu Pandu telah tertanam di rahim kedua istrinya tanpa ada sentuhan fisik. Untuk mengaktifkan benih tersebut menjadi janin, Resi Druwasa meminta Dewi Kunti merapalkan Aji Kunta Wekasing Rasa Cipta Tunggal Tanpa Lawan yang pernah diajarkannya dahulu. Dewi Kunti juga diminta mengatur jarak kelahiran ketiga putranya, sebelum nantinya mengajarkan ajian tersebut kepada Dewi Madrim. Setelah memberikan petunjuk terakhir, arwah Resi Druwasa keluar dari raganya dan jasadnya musnah bersatu dengan alam. Bagawan Abyasa kemudian memimpin upacara penghormatan untuk melepas kepergian sang resi.
Kelahiran Raden Puntadewa
Prabu Pandu segera membawa Dewi Kunti ke dalam sanggar pemujaan untuk mengundang dewa menggunakan ajian sakti tersebut. Karena Prabu Pandu mendambakan putra sulung yang adil dan bijaksana, Dewi Kunti memfokuskan ciptanya untuk memanggil Batara Darma, dewa kebijaksanaan.
Batara Darma pun hadir memenuhi panggilan. Atas permohonan Dewi Kunti, Batara Darma menyatukan benih yang tertanam di rahim dengan kekuasaannya. Seketika itu juga, kandungan Dewi Kunti membesar dan ia melahirkan seorang bayi laki-laki dengan proses yang sangat mudah tanpa rasa sakit.
Setelah memberikan berkah spiritual kepada sang bayi, Batara Darma kembali ke kahyangan. Prabu Pandu dengan penuh rasa syukur menggendong putranya yang berwajah tampan dan memberinya nama Raden Puntadewa, sebagai pengingat bahwa anak tersebut lahir atas anugerah dewa.
Dewi Gendari Menelan Biji Mangga Pertanggajiwa
Tidak lama berselang, Adipati Dretarastra, Dewi Gendari, dan Arya Suman tiba di Gunung Saptaarga. Mereka membawa kabar duka dari Mandraka sekaligus berita pelantikan Prabu Salya. Mendengar ayahnya wafat dan ia tidak bisa hadir, Dewi Madrim jatuh pingsan karena terlalu berduka, lalu segera digotong ke dalam oleh Dewi Kunti.
Dewi Gendari dan Arya Suman terkejut melihat Dewi Kunti sudah menimang bayi. Prabu Pandu pun menceritakan mukjizat dari buah Mangga Pertanggajiwa pemberian Resi Druwasa.
Melihat hal tersebut, Arya Suman menghasut kakaknya untuk meminta sarana serupa agar bisa segera hamil. Dewi Gendari lalu memohon bantuan kepada Bagawan Abyasa. Sang bagawan kemudian memungut biji Mangga Pertanggajiwa yang tersisa, memberikan restu penyubur kandungan, dan meminta Dewi Gendari menelannya. Bagawan Abyasa menasihati Adipati Dretarastra agar segera melakukan hubungan suami istri setibanya di Hastina karena rahim Dewi Gendari sedang dalam kondisi sangat subur.
Baca Juga: Lakon Dewa Ruci: Kisah Bima Menemukan Jati Diri dan Kesempurnaan Hidup
Kerajaan Awangga Menjadi Bawahan Hastina
Kegembiraan itu terusik oleh kedatangan Prabu Rudraksa dari Awangga yang datang dengan pasukan penuh untuk merebut Dewi Madrim. Prabu Pandu langsung menghadapi raja raksasa tersebut dan berhasil menewaskannya menggunakan panah Mustikajamus.
Melihat raja mereka gugur, pasukan raksasa ketakutan. Putra Prabu Rudraksa yang bernama Raden Kalakarna maju berlutut memohon ampun atas kelancangan ayahnya dan menyatakan siap menerima hukuman.
Prabu Pandu yang terkesan dengan kesopanan Raden Kalakarna mengampuninya dan mengizinkannya memimpin Awangga kembali. Namun, sebagai konsekuensinya, mulai hari itu Kerajaan Awangga resmi menjadi wilayah bawahan Kerajaan Hastina. Raden Kalakarna menyetujui syarat tersebut dan membawa pulang jasad ayahnya.
Setelah situasi kembali kondusif, Adipati Dretarastra, Dewi Gendari, dan Arya Suman pamit kembali ke Hastina. Di sepanjang perjalanan pulang, pikiran licik Arya Suman mulai bekerja, memikirkan cara untuk menyingkirkan putra Prabu Pandu yang lahir lebih dulu daripada calon anak dari kakaknya.
Editor : Jihad Rokhadi