Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Kisah Sayembara Dewi Drupadi (2): Busur Gandiwa yang Mustahil, Senjata Legendaris Penentu Sayembara Drupadi

Jihad Rokhadi • Rabu, 6 Mei 2026 | 19:12 WIB
Busur Gandiwa menjadi pusat sayembara Dewi Drupadi. Senjata legendaris ini begitu berat dan sakti, hanya kesatria terpilih yang mampu mengangkatnya
Busur Gandiwa menjadi pusat sayembara Dewi Drupadi. Senjata legendaris ini begitu berat dan sakti, hanya kesatria terpilih yang mampu mengangkatnya

 

RADAR PURWOREJO – Sayembara Dewi Drupadi bukan sekadar ajang memperebutkan putri raja. Lebih dari itu, ini adalah ujian bagi para kesatria sejati.

Dan di pusat ujian tersebut berdiri satu benda yang menentukan segalanya: Busur Gandiwa.

Senjata pusaka ini bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga menjadi penentu siapa yang layak menjadi pendamping Dewi Drupadi.


Busur Pusaka dari Kerajaan Duhyapura

Busur Gandiwa bukanlah senjata biasa. Ia adalah peninggalan Kerajaan Duhyapura, sebuah kerajaan kuno yang pernah berjaya sebelum akhirnya runtuh akibat serangan besar.

Dalam sejarahnya, busur ini berhasil diselamatkan oleh Patih Suganda, yang kelak dikenal sebagai Prabu Gandabayu, raja pertama Pancala.

Sejak saat itu, Gandiwa menjadi pusaka kerajaan—disimpan, dijaga, dan hanya digunakan pada momen penting.

Baca Juga: Kisah Sayembara Dewi Drupadi (1): Para Raja Datang, Prabu Drupada Dilanda Dilema


Bobot Tak Masuk Akal, Seolah Memilih Tuannya

Keistimewaan Busur Gandiwa terletak pada bobot dan “kehendaknya”.

Konon, untuk sekadar memindahkan busur ini, dibutuhkan seratus prajurit. Namun anehnya, bagi orang tertentu, Gandiwa justru terasa ringan.

Seolah-olah, busur ini mampu memilih siapa yang layak menjadi tuannya.

Bagi yang tidak berhak, Gandiwa akan terasa sangat berat, bahkan tak tergoyahkan.


Syarat Sayembara yang Nyaris Mustahil

Raden Drestajumena menetapkan aturan yang membuat para peserta terdiam.

Tidak cukup hanya mengangkat Busur Gandiwa, para kesatria juga harus:

Artinya, peserta harus memiliki kekuatan fisik, ketajaman mata, serta ketenangan batin yang sempurna.

Kesalahan sedikit saja akan berakibat kegagalan.

Baca Juga: Kisah Kelahiran Kurawa dan Bima Bungkus: Asal-usul Perseteruan Abadi Dua Darah Barata


Keraguan Muncul, Harapan Mulai Pudar

Melihat syarat tersebut, banyak pihak mulai ragu.

Bahkan Prabu Drupada sendiri sempat mempertanyakan, apakah ada kesatria yang mampu menyelesaikan ujian ini?

Di luar gelanggang, para raja dan pangeran yang awalnya penuh percaya diri kini mulai diliputi kecemasan.

Mereka bukan hanya mempertaruhkan harga diri, tetapi juga kehormatan kerajaan masing-masing.


Hanya Satu Nama yang Disebut: Arjuna

Di tengah keraguan itu, Arya Gandamana menyebut satu nama yang diyakininya mampu menaklukkan Gandiwa.

Raden Arjuna.

Kesatria Pandawa itu dikenal sebagai pemanah terbaik di dunia. Keahliannya bahkan sering dipuji oleh Resi Druna.

Namun satu masalah besar muncul.

Arjuna dikabarkan telah gugur dalam tragedi kebakaran di Waranawata.

Meski begitu, Gandamana tetap yakin.

“Kesatria seperti Arjuna tidak mudah binasa,” menjadi keyakinannya.

Baca Juga: Kisah Pandawa: Raden Suyudana Resmi Jadi Pangeran Mahkota Hastina, Intrik Istana dan Kisah Bima Tumbangkan Prabu Baka


Sayembara Segera Dimulai

Segala persiapan telah selesai.

Tiang tinggi telah didirikan. Rambut Dewi Drupadi telah diikat di puncaknya. Busur Gandiwa diletakkan di tengah gelanggang, siap diuji.

Para raja dan pangeran mulai bersiap.

Namun yang terjadi kemudian justru di luar dugaan.

Satu per satu kesatria besar tumbang—bahkan sebelum sempat membidik sasaran.


Apa yang Terjadi di Gelanggang?

Siapa yang pertama mencoba?
Mengapa para raja besar justru gagal total?

👉 Baca selanjutnya: Raja-Raja Tumbang: Jayadrata, Jarasanda, dan Salya Gagal Total di Sayembara Drupadi

Editor : Jihad Rokhadi
#dewi drupadi #Cerita Wayang #Wayang