Bahasa Jawa tidak hanya menjadi medium untuk menyampaikan cerita tradisi, tetapi juga mampu menjadi ruang untuk mengungkapkan cinta dengan cara yang lembut dan puitis. Hal itu terlihat dalam dua lagu yang dibawakan Damar Panggalih, yakni “Sekar Arum” dan “Kartika Chandra”.
Keduanya sama-sama mengangkat tema asmara dan menggunakan diksi Jawa yang kental dengan metafora alam. Namun, cara kedua lagu tersebut menggambarkan cinta memiliki penekanan yang berbeda.
Dalam “Sekar Arum”, cinta lebih banyak ditempatkan sebagai sesuatu yang patut disyukuri sekaligus dijaga. Lagu tersebut dibuka dengan ungkapan terima kasih kepada Tuhan karena telah dipertemukan dengan sosok yang dicintai. Perasaan itu kemudian berkembang menjadi harapan untuk menjalani kehidupan bersama hingga masa tua.
Cinta dalam “Sekar Arum” juga digambarkan melalui berbagai simbol. Rembulan digunakan untuk menggambarkan keindahan wajah sang kekasih, sementara bunga menjadi lambang perasaan yang dipeluk dan dijaga erat. Cinta tersebut bahkan digambarkan tidak akan hilang meskipun diterpa angin ataupun terbawa air.
Baca Juga: Prabowo Digugat Class Action soal Karhutla Kalbar, Sidang Perdana 7 Oktober 2026
Nuansa kesetiaan semakin kuat melalui gambaran “segara madu”, atau lautan madu, sebagai simbol kasih sayang yang luas dan manis. Dengan demikian, “Sekar Arum” tidak hanya berbicara mengenai kekaguman terhadap pasangan, tetapi juga tentang rasa syukur, kesetiaan, dan keinginan mempertahankan hubungan.
Sementara itu, “Kartika Chandra” menghadirkan pendekatan romantis yang lebih berpusat pada sosok pujaan hati. Liriknya menggunakan gambaran bintang dan rembulan sejak bagian awal. Sosok perempuan digambarkan seperti bunga yang harum, bidadari, hingga sesuatu yang menjadi perhiasan dalam kehidupan.
Jika “Sekar Arum” menonjolkan perjalanan cinta yang ingin dipertahankan, “Kartika Chandra” lebih banyak memperlihatkan kekaguman dan pemujaan terhadap sosok yang dicintai.
Hal tersebut terlihat dari penggambaran senyum dan tawa sang kekasih yang disebut begitu membekas di dalam hati. Pada bagian berikutnya, sang penutur menegaskan bahwa kekasih tersebut merupakan bagian penting dalam hidupnya dan cintanya tidak akan luntur sepanjang waktu.
Menariknya, kedua lagu sama-sama mengandalkan metafora alam untuk menyampaikan perasaan yang sulit dijelaskan secara langsung. “Sekar Arum” menggunakan bunga, rembulan, angin, air, dan lautan madu, sedangkan “Kartika Chandra” menonjolkan bintang, bulan, bunga, madu, serta gambaran bidadari.
Dari sisi diksi, keduanya juga memperlihatkan kecenderungan menggunakan kosakata Jawa bernuansa sastra. Pilihan kata seperti nimas ayu, sekar arum, pradangga, dan kekidungan dalam “Sekar Arum” membangun kesan lembut dan syahdu. Sementara “Kartika Chandra” menggunakan ungkapan seperti juwita ayu, widodari, mustika nala, dan puspita rerengganing uripku untuk memperkuat gambaran tentang sosok yang dikagumi.
Perbedaan tersebut membuat kedua lagu dapat dibaca sebagai dua sudut pandang dalam menyampaikan cinta. “Sekar Arum” lebih dekat dengan kisah tentang rasa syukur dan komitmen, sedangkan “Kartika Chandra” lebih menonjolkan kekaguman dan pemujaan terhadap pujaan hati.
Meski demikian, keduanya bertemu pada satu titik yaitu cinta digambarkan sebagai sesuatu yang indah, tulus, dan tidak mudah berubah. “Sekar Arum” menyampaikannya melalui harapan untuk bersama hingga tua, sedangkan “Kartika Chandra” melalui penegasan bahwa cinta tidak akan luntur sepanjang waktu.
Baca Juga: Bola Api Muncul di Langit Manisrenggo Klaten, Warga Sempat Teriak Maling
Kehadiran dua karya tersebut menunjukkan bagaimana Damar Panggalih memanfaatkan bahasa Jawa sebagai bahasa romantisme. Alih-alih menggunakan ungkapan cinta secara langsung, perasaan diterjemahkan melalui bunga, rembulan, bintang, madu, gamelan, dan berbagai simbol lain yang membuat kisah asmara terasa lebih puitis.
Pada akhirnya, “Sekar Arum” dan “Kartika Chandra” sama-sama membawa kisah cinta, tetapi dengan warna yang berbeda. Yang satu berbicara tentang cinta yang disyukuri dan ingin dijaga hingga hari tua, sementara yang lain menggambarkan kekaguman kepada seseorang yang dianggap begitu berharga dalam kehidupan.