RADAR PURWOREJO - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memastikan status siaga darurat bencana hidrometeorologi berlangsung hingga akhir Februari mendatang. Masyarakat pun diimbau untuk tetap mewaspadai berbagai potensi bencana yang akan dihadapi.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman memiliki ancaman bencana hidrometeorologi. Khususnya kejadian pohon tumbang dan kerusakan rumah yang diakibatkan oleh angin kencang.
“Sehingga pada musim hujan tahun ini dapat mengisi kembali air tanah, namun kami berharap tidak disertai dengan angin kencang,” ujar Makwan kemarin (10/1).
Guna mengantisipasi dampak bencana hidrometeorologi lebih parah, Makwan meminta agar masyarakat mulai melakukan upaya pencegahan. Di antaranya dengan memangkas tajuk-tajuk pohon yang berpotensi rawan tumbang.
Di samping itu, bagi masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi pun diminta untuk selalu waspada. Sebab, seiring datangnya musim hujan potensi banjir lahan dingin juga meningkat.
“Bencana hidrometeorologi menjadi ancaman di semua kapanewon,” kata Makwan.
Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, instansi terkait harus memastikan sarana dan prasarana penanganan bencana dalam kondisi baik. Selain itu juga perlu ditingkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi terkait bencana.
Kustini menyebut, setiap orang pun harus memiliki pengetahuan tentang kebencanaan. Sebab Kabupaten Sleman merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam kawasan rawan bencana.
“Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam menghadapi bencana, maka kita akan mampu bersikap dan bertindak secara cepat dan tepat,” ungkapnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova