RADAR PURWOREJO – Harga cabai mulai turun. Sebaliknya justru komoditas pangan lainnya seperti tomat dan kentang naik seperti memasuki awal 2024. Hal ini terjadi karena stok komoditi tersebut yang berkurang. Faktor utamanya karena cuaca, hujan yang tak kunjung mereda menyebabkan produksi berkurang.
Salah satu pedagang di Pasar Beringharjo Ida Chabibah mengatakan, harga cabai yang sempat menjulang tajam hingga Rp 90 Ribu per kilogram saat ini berangsur terjangkau. Jenis cabai rawit di harga Rp 45 Ribu per kilogram, cabai keriting Rp 60 Ribu per kilogram. "Cabai naik turun tapi masih terjangkau, kalau untuk cabai-cabai stoknya melimpah. Tapi kalau hujannya terus-terusan ada pengaruh kenaikan lagi," katanya, kemarin (22/1).
Ida menjelaskan rata-rata bahan pokok komoditi sayuran berangsur turun. Namun, ada dua komoditi yang justru naik seperti tomat dari Rp 15 Ribu menjadi Rp 25 Ribu per kilogram. Kemudian kentang dari Rp 18 Ribu menjadi Rp 25 Ribu. Faktor kenaikan ini dipengaruhi karena stok komoditi keduanya yang kurang sementara permintaan tetap berjalan terus. "Sudah seminggu setelah tahun baru ada penurunan harga tapi untuk kentang dan tomat tetap tinggi,’’ ujarnya.
Dia menyebut, persediaan komoditi tomat ini dari Bandung sedangkan kentang dari Dieng. Di saat musim hujan seperti sekarang ini membawa konsekuensi datangnya persediaan sayur mayur yang tidak berkualitas atau busuk. Sehingga dia memilih mengambil barang dari daerah tersebut. "Musim hujan seperti ini susah ya, malah jelek barangnya. Saya ngambilnya Bandung karena kualitasnya terjamin," jelasnya.
Meski ada kenaikan tak mempengaruhi permintaan dari konsumen yang ada terus setiap hari. Namun jumlah pembeliannya dikurangi, misal 1 kuintal hanya 50 atau 70 kilo saja sekali pembelian. "Catering-catering tetap dipakai tapi ada penurunan pembelian. Sayur mayur itu kan kebutuhan pokok walaupun harga mahal tetap dipakai," terangnya.
Selain itu, komiditi lain yang naik yaitu bawang bombay dari Rp 23 Ribu menjadi Rp 30 Ribu. Bawang putih Rp 45 Ribu, bawang merah Rp 40 Ribu, namun kedua bumbu aromatik itu hanya mengalami kenaikan sedikit.
Menurutnya, tren kenaikan harga sayur mayur tiap awal tahun yang terus berganti komoditas sudah menjadi hal biasa karena faktor cuaca. Namun untuk kali ini perbedaannya karena kenaikan berawal dari kemarau panjang. Saat musim kemarau sejumlah harga komoditi sayuran turun. Namun, fenomena kali ini justru merangkak naik lantaran faktor cuaca. "Kalau terlalu berlebihan, kayak hujan hujan biasa nggak masalah tapi kalau hujannya intensitasnya tinggi pengaruh sama sayur mayur. Begitu pula kalau kemarau telalu panjang juga pengaruh juga sama sayur mayur," tambahnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ Syam Arjayanti mengatakan, kenaikan harga tomat dan kentang karena berkurangnya pasokan. Hal ini difakfori oleh cuaca. "Karena banyak tanaman yang rusak kena hujan," katanya.
Terkait kenaikan sayur mayur ini, Disperindag tak ada kegiatan khusus seperti pasar murah. Kendati begitu, pasar murah dengan komoditi baru akan dilaksanakan mulai Februari sampai Desember mendatang. Ini untuk komoditas pangan seperti beras, gula, minyak, telur, bawang merah, dan bawang putih. “Pasar murah akan menyasar ke pasar pantauan dan juga sampai ke lokasi di kelurahan-kelurahan," tambahnya. (wia/din)
Editor : Satria Pradika