RADAR PURWOREJO - Pemprov DIJ hanya menyerahkan 50 unit becak listrik telah kepada tiga koperasi becak wisata yang ada di Jogja Jumat (5/4). Karena jumlah yang terbatas, mekanisme penggunaan becak kayuh bertenaga alternatif listrik untuk libur Lebaran diserahkan kepada masing-masing koperasi.
Ketua Paguyuban Becak Wisata Paimin Ahmad Sarjono menyebut, kooperasinya merupakan Koperasi Asha Abyakta Senopati yang menerima hibah 10 becak listrik. Karena jumlahnya terbatas, penggunaannya dilakukan bergantian antar-anggota. Diurutkan dari bagi anggota yang memenuhi syarat. Yakni sudah membayar simpanan pokok dan simpanan wajib per bulan. Waktu penggunaannya pun masih dibebaskan.
"Anggota yang mendaftarkan sudah banyak. Saya urutkan yang sudah terpenuhi (syarat, Red), wajib jalan," ungkapnya kemarin (7/4).
Namun disinggung terkait jumlah anggota dan berapa yang sudah memenuhi syarat, Paimin enggan membeberkan. Hanya saja, dia termasuk dalam anggota yang sudah mencicipi becak listrik sejak Jumat (5/4). "Jauh (berbeda dari becak kayuh, Red), ini tidak menguras tenaga sama sekali. Saya sendiri 70 tahun, ini sangat membantu, lancar do seneng," katanya.
Bahkan untuk perjalanan jauh hingga 20 kilometer, lanjutnya, becak listrik ini tidak memiliki kendala. Bahkan cadangan baterai hanya berkurang separo saja. "Teman saya (bawa becak listrik, Red) dari rumah ke sini (kawasan Malioboro, Red) 20 kilometer, ternyata setrumnya masih banyak," lontarnya.
Terkait tarif yang dipatok, dia tak sembarangan. Tarif resmi tersebut ditetapkan menyesuaikan jarak jauh atau dekat. Paguyuban ini mangkal di sekitar Hotel Khas Malioboro tak jauh dari SMAN 10 Jogja. "Kalau dari situ ke Stasiun Tugu Rp 30 ribu, ke Keraton Rp 20 sampai Rp 25 ribu. Mboten nuthuk, ini saya buat tarif resmi," tambahnya.
Rata-rata pengemudi becak kayuh itu telah lama kerja 20-40 tahun mengayuh becak tradisional di kawasan Sumbu Filosofi. Meski koperasi telah menerima hibah becak bertenaga alternatif, tidak menutup kemungkinan becak kayuh tradisional masih bisa dioperasikan. Peralihan tersebut ditujukan agar pengemudi becak kayuh tidak terlalu menguras tenaga dan agar bisa naik kelas.
"Saat membutuhkan becak kayuh yang tradisional masih bisa dioperasikan," sebutnya.
Pengemudi becak lain Parjono, 65, warga Bantul yang ikut mengoperasikan becak kayuh tenaga alternatif listrik mengatakan hal senada. Hanya saat menanjak, dia menagku kesulitan untuk menahannya. Hal ini karena posisi roda yang mepet dengan rangka.
"Tapi rodanya itu mepet. Namun lebih enak, ringan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan, 50 becak listrik yang diserahkan merupakan luncuran tahapan awal untuk mendukung perwujudan kawasan Malioboro low emission zone atau kawasan rendah emisi.
Sebelumnya, becak listrik sudah diluncurkan pada Desember 2023. Setelah diluncurkan resmi, kemudian menyiapkan administrasi dan persiapan teknis lainnya bersama pengurus koperasi. Ada tiga koperasi yang telah terbentuk, kemudian pengurus koperasi membuat NPWP, NIB, Anggaran Rumah Tangga dan pemasangan papan nama koperasi.
"Kegiatan persiapan administrasi dan teknis yang telah dilaksanakan tersebut perlu dilakukan dalam rangka untuk memastikan kesiapan dari masing-masing koperasi sebelum menjalankan pelayanan kepada masyarakat," ujarnya.
Sementara persiapan lain sebelum siap dioperasionalkan yakni berkaitan dengan teknis operasional yang dilakukan. Di antaranya pengecekan fisik terhadap 50 becak dari pengadaan yang sudah ada, pelaksanaan uji coba terbatas baik di tempat maupun di jalan raya. Kemudian pelatihan dan pengarahan tata cara mengemudikan becak kayuh dengan tenaga alternatif kepada anggota koperasi. Dan pelaksanaan uji coba secara bersama-sama di jalan kawasan Malioboro.
"Kami berharap jika koperasi becak sudah siap maka dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara aman, nyaman dan memuaskan," jelasnya.
Adapun pembagian 50 unit becak listrik itu secara rinci diberikan kepada tiga koperasi meliputi Koperasi Becak Kayuh Jogjakarta menerima 20 unit, Koperasi Becak Wisata Jogjakarta menerima 20 unit, dan Koperasi Asha Abyakta Senopati menerima 10 unit becak.
Terkait tarif, akan ditentukan berdasar jarak. Dan koperasi dilarang memberikan tarif seenaknya atau aji mumpung. Sebab ini kaitan erat dengan citra parwisata Jogja utamanya kawasan sumbu filosofi diawali Jalan Malioboro yang sudah tertata dari sisi sistem transportasinya.
"Kalau bisa ke depan kerja sama dengan sistem link transportasi. Dia turun di Tugu bisa connect dengan tukang becak supaya mempermudah masyarakat mobilisasi di wilayah perkotaan," sebutnya.
Selain itu, adanya becak listrik ini sebagai upaya menggantikan becak motor (bentor) di kawasan Malioboro. Sebab, ke depan bentor tidak direkomendasikan beroperasi. Dengan demikian, target 2025-2026 mendatang dapat terwujud benar-benar kawasan rendah emisi di sumbu filosofi. (wia/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova