JOGJA - Proyek pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang dibangun di Kompleks Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan diproyeksikan selesai di tahun 2027. Proses lelang dari Danantara telah bergulir di empat daerah, salah satunya di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
"Mudah mudahan PSEL nanti beroperasi di 2028, 2027 baru selesai pembangunannya," ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kehutanan (DLHK) DIJ Kusno Wibowo saat dikonfirmasi, Kamis (20/11).
Dalam proses pembangunan itu, ia juga akan terus menjalin komunikasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk menyiapkan skema penyediaan bahan bakar dari sampah itu sendiri. Persoalan timbulan sampah di rentang waktu tersebut juga diharapkan bisa segera terselesaikan secara mandiri. "Pembangunan PESL nanti diperkirakan mulai pertengahan 2026," bebernya.
Danantara, lanjutnya, telah memulai proses pelelangan program nasional PSEL di empat daerah yakni Bekasi, Bali, Bogor dan DIJ. Namun, ia juga belum mengetahui detail desain PSEL yang akan dibangun nantinya seperti apa. "Lahan yang kami sediakan di TPST Piyungan sebesar 5,7 hektare," tandasnya.
Terpisah, Guru Besar bidang Sumber Daya Air dan Lingkungan Prof. Agus Maryono mengatakan pembangunan PSEL merupakan salah satu trobosan dalam menghadapi situasi pengelolaan sampah yang belum sempurna di DIJ. PSEL menjadi satu alternatif untuk menyelesaikan masalah sampah di kota-kota, termasuk di Jogja yang ia perkirakan efektif.
Dia mengingatkan, yang perlu diperhatikan adalah pembakarannya sempurna atau tidak. “Hasil CO2-nya dan sebagainya. Saya kira, kalau memang alatnya baik ya tidak mengeluarkan asap yang mengganggu lingkungan di situ," ujarnya.
Apabila proses pembakaran berjalan dengan baik, lanjutnya, PSEL akan minim residu dan tidak menambah polusi udara yang signifikan. Sebaliknya, program tersebut malah akan menjadi solusi atas kemungkinan rusaknya kondisi air di sekitar TPST Piyungan akibat penumpukan sampah yang berlebih.
Ia juga menegaskan agar masyarakat jangan terlena dengan program tersebt dan tidak melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Cita-cita penanganan masalah sampah idealnya dilakukan dari tingkat rumah tangga dengan cara pemilahan dan reduse, reuse, recycle. Namun, kenyataannya di lapangan kesadaran masyarakat masih sangat rendah.
"Akhirnya sampah yang sebetulnya masih bisa kita recycle menjadi langsung dibuang oleh masyarakat karena sudah ada pembakarnya gitu. Jangan sampai kemudian penyadaran, gerakan penyadaran, gerakan penyadaran tentang pengelolaan sampah di masyarakat itu berhenti," ucap Dekan Sekolah Vokasi UGM itu. (oso/pra)
Editor : Heru Pratomo