Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Dilema Pedagang Pasar Klithikan Pakuncen Jogja yang Kian Sepi: Berjualan Offline Sepi, Tawarkan Online Rugi

Iwan Nurwanto • Jumat, 8 Mei 2026 | 19:35 WIB
NYENYET: Suasana Pasar Klithikan Pakuncen yang mulai semakin sepi Jumat (8/5/2026). Dulu pasar tersebut didatangi ribuan pengunjung setiap harinya. IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA
NYENYET: Suasana Pasar Klithikan Pakuncen yang mulai semakin sepi Jumat (8/5/2026). Dulu pasar tersebut didatangi ribuan pengunjung setiap harinya. IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA

 

JOGJA - Dulu, Pasar Klithikan Pakuncen Kota Jogja menjadi pusat perburuan barang antik. Tapi kini para pedagang semakin kebingungan karena kondisi pasar yang semakin sepi. Kondisi ini membuat dilema para pedagang, beralih ke penjualan digital pun belum menjadi opsi mereka.

 

Pantauan Radar Jogja, kondisi Pasar Klithikan Pakuncen memang memprihatinkan. Dari puluhan lapak hanya sebagian kecil yang buka. Mayoritas yang bertahan hanya beberapa pedagang barang antik dan onderdil motor.

 

Salah satu pedagang barang antik di pasar tersebut, Klowor mengungkapkan, sebelum masa pandemi Covid-19 pasar yang beralamat di Jalan HOS Cokroaminoto, Wirobrajan itu merupakan pusat keramaian. Sehari-hari ribuan orang bisa datang dengan tempat parkir penuh sesak.

 

Baca Juga: Viral Begal Pantat di Magelang, Pelaku Ternyata Sudah Berkali-kali Beraksi

 

Namun sekarang, Klowor menyebut Pasar Klithikan Pakuncen sudah sangat lengang. Lalu lalang pengunjung sudah sangat jarang. Sementara pembeli juga sudah tidak pasti. Sehingga pasrah pun menjadi pilihan terakhir.

 

“Karena kalau mengharapkan (Pasar Klithikan) ramai kayak dulu sudah tidak bisa, jadi bisanya cuma bersyukur,” ujar Klowor kepada Radar Jogja, Jumat (8/5/2026).

 

Pedagang barang antik pindahan dari Jalan Asem Gede-Pasar Kranggan ini mengaku juga tengah menghadapi dilema. Lantaran migrasi ke penjualan secara online justru membuat pedagang semakin merugi.

 

Baca Juga: Penantian 16 Tahun Berakhir di Tanah Suci, CJH asal Kulon Progo Meninggal Sebelum Puncak Haji

 

Klowor mengakui, pasar digital memang menawarkan jangkauan yang luas. Namun para pedagang dihadapkan oleh biaya admin atau potongan aplikasi yang mencekik. Sehingga margin keuntungannya pun semakin tipis bahkan merugi.

 

“Umpamanya kami jual barang seharga satu juta, potongannya seratus ribu. Wah tidak untung itu,” beber Klowor.

 

Hal serupa juga dirasakan oleh Yuli, penjual busana ini juga mengaku hanya bisa pasrah dengan semakin sepinya Pasar Klithikan Pakuncen. Menurutnya, pemerintah kota (pemkot) sudah berupaya untuk membuat suasana pasar semakin ramai tapi tidak kunjung berhasil.

 

“Dulu pernah digelar event. Cuma terus sepi lagi, sekarang ya cuma gini-gini saja (sepi),” ungkapnya singkat.

Baca Juga: Siap Melesat, Pebalap Astra Honda Bidik Podium di ARRC Buriram

 

Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo mengatakan, akan melakukan revitalisasi fisik pasar dan sosial bagi pedagang. Sehingga gairah Pasar Klithikan Pakuncen bisa hidup kembali.

 

Dijelaskan, revitalisasi fisik terkait dengan perbaikan bangunan yang diusulkan pada tahun ini. Kemudian revitalisasi sosial sudah dilakukan dengan pendampingan dan pendekatan kultural kepada para pedagang.

 

“Kami rencana menerapkan konsep pasar rakyat hybrid. Versi offline jangan dimatikan, tapi online-nya harusnya jalan,” cetusnya belum lama ini. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Pasar Klithikan #Pakuncen #pedagang #barang antik #sepi