KEBUMEN - Sebuah telaga di Desa Watukelir, Kecamatan Ayah tiba-tiba ambles kurang lebih sedalam tiga meter. Tak hanya itu kejadian tersebut juga mengakibatkan air telaga habis tak tersisa. Fenomena tak biasa ini pun sempat mengagetkan warga karena baru kali ini air telaga surut tanpa bekas.
Camat Ayah Arif Rahmadi menyampaikan, peristiwa amblesnya telaga ini diketahui terjadi secara tiba-tiba. Tepatnya pada Minggu (8/12) malam seiring hujan deras yang mengguyur wilayah setempat. Tidak ada tanda-tanda sebelum bagian permukaan telaga ambles. "Dasar telaga itu ambles, air otomatis masuk ke bawah. Kemungkinan bawah itu ada sungai," ucapnya, Jumat (13/12).
Dia mengungkapkan, posisi telaga tersebut berada di area perbukitan. Sedangakan pada bagian dasar telaga diketahui memiliki celah yang selama ini tertutup akibat mekanisme alam. Dia mengira amblesnya dasar telaga berada persis di bagian celah karena mampu menampung debit air. "Gambarannya begini, sumbatan itu lepas sehingga air surut. Mengalirnya ke sungai mengarah Desa Pakuran, karena laporan di sana kedatangan air melimpah," ucapnya.
Baca Juga: Jauh-jauh dari Brunei, Warga Dampit Terima UGR Rp 8,8 Juta
Baca Juga: Bawaslu Kebumen Masih Punya Tugas Dua Tahapan Lagi
Arif tak mengetahui persis kapan telaga terbentuk. Namun, dia menegaskan telaga terbentuk dari peristiwa alam. Sejauh ini telaga tersebut dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan. "Telaga itu sudah ada sejak mbah orang sini. Bisa jadi sekian tahun lagi bolongan itu tertutup, bisa tampung air lagi," bebernya.
Terpisah, Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Karangsambung Chusni Ansori menjelaskan, kejadian di Desa Watukelir tersebut merupakan peristiwa lumrah. Secara topografi Desa Watukelir berada di kawasan bentang alam karst yang memiliki identik dengan lembah dan telaga.
Dia membeberkan, peristiwa tersebut terjadi karena ada pelapukan pada bagian dasar telaga, sehingga air masuk ke dalam dan mengalir ke sungai bawah tanah. "Batuan di sana mudah larut oleh air, apalagi kalau ada kandungan asam. Di telaga itu ya, erosi agak kuat kemudian membentuk cekungan dan terhubung ke sungai bawah tanah," jelasnya.
Chusni menjelaskan, secara umum surutnya air telaga di Desa Watukelir tidak begitu mengkhawatirkan. Dia berkeyakinan telaga tersebut akan kembali seperti semula seiring adanya siklus alam. "Secara teoritis bisa dihitung. Menghasilkan lubang seberapa besar bisa. Pasti di masa lalu juga pernah. Cuma tidak tercatat seperti sekarang," jelasnya. (fid)
Editor : Heru Pratomo