Dukung Cakupan ASI Eksklusif, Gibran Teliti Manfaat Tanaman Herbal untuk Tingkatkan Produksi ASI

Heru Pratomo • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 05:50 WIB
Tanaman herbal Rosemary.
Tanaman herbal Rosemary.

 

 

YOGYAKARTA — Malnutrisi dan stunting masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemberian ASI eksklusif secara optimal terbukti menjadi salah satu intervensi paling efektif untuk menunjang tumbuh kembang anak sekaligus menekan risiko stunting.

Namun, kendala produksi ASI yang tak mencukupi dialami oleh lebih dari 50% ibu pascapersalinan, sehingga kehadiran solusi pendorong ASI (galaktagog) yang aman dan teruji menjadi sangat krusial.

Melihat pentingnya isu ini, Muhammad Ilham Gibran, mahasiswa program fast-track Magister Ilmu Biomedik dan Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), melakukan riset mendalam mengenai potensi tanaman herbal pendorong ASI.

Baca Juga: MPLAS di Sekolah Rakyat Kulon Progo, Siswa Cuma Bawa Baju Ganti karena Asrama hingga Kebutuhan Logistik Terjamin

Hasil riset ini dipresentasikan pada ajang bergengsi 20th World Congress of Basic and Clinical Pharmacology (WCP2026) di Melbourne, Australia.

Di bawah bimbingan Prof. Dr. Mustofa, Apt, M.Kes. dan drg. Fara Silvia Yuliani, M.Sc., Ph.D., Gibran menyusun riset bertajuk “Translational Evidence for Herbal Galactagogues: A Systematic Review”. Riset ini menelaah secara kritis efektivitas serta keamanan berbagai jenis tanaman yang selama ini dipercaya masyarakat dunia dapat meningkatkan produksi ASI.

Menjembatani Tradisi dan Bukti Ilmiah

Penggunaan herbal pendorong ASI memang telah mengakar secara turun-temurun di banyak budaya, termasuk tradisi jamu di Indonesia. Meski demikian, efektivitas dan keamanan penggunaannya sering kali belum didukung oleh standar bukti ilmiah yang seragam.

Baca Juga: Siswa Sekolah Rakyat Sleman Kluyuran Dini Hari Bawa Celurit demi Bikin Konten, Kini Dititipkan ke BPRSR Dinas Sosial DIY

Melalui sintesis puluhan penelitian global, riset sistematis ini memberikan tiga manfaat utama bagi dunia kesehatan dan pengembangan obat:

  1. Rujukan Klinis Teruji: Memetakan jenis tanaman herbal yang terbukti secara ilmiah paling kuat memicu produksi ASI, sehingga aman dan efektif digunakan oleh ibu menyusui.

  2. Panduan Kebijakan & Layanan Kesehatan: Menjadi acuan berbasis bukti (evidence-based) bagi tenaga medis, peneliti, dan pengambil kebijakan dalam merumuskan intervensi kesehatan ibu dan anak.

  3. Pendorong Riset Translasional: Menghubungkan potensi herbal dari uji laboratorium dasar menuju penerapan praktis pada pelayanan kesehatan masyarakat.

"Pengembangan obat herbal tidak hanya didasarkan pada pengalaman empiris, tetapi juga pada bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan," ujar Gibran di Kampus UGM.

Mengangkat Potensi Bahan Alam Indonesia ke Tingkat Global

Baca Juga: Menghitung Hari, Membaca Alam: Jejak Kecerdasan Kuno dalam Weton

Riset ini memberikan manfaat strategis bagi Indonesia sebagai pemilik keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Kehadiran kajian ini di forum WCP2026—yang mempertemukan peneliti, klinisi, hingga industri farmasi dari berbagai negara—menjadi pijakan penting untuk mendorong riset tanaman obat lokal agar diakui secara internasional.

Keikutsertaan peneliti muda UGM ini tidak sekadar bermakna diseminasi akademis, tetapi juga membuka peluang kolaborasi lintas negara untuk mempercepat uji klinis serta modernisasi obat berbasis bahan alam.

Harapannya, pemetaan ilmiah mengenai herbal galaktagog ini dapat segera ditindaklanjuti menjadi produk kesehatan teruji yang terjangkau, sehingga dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan cakupan ASI eksklusif dan menekan angka stunting di Indonesia.

Editor : Heru Pratomo
Sumber : ugm.ac.id
asi eksklusif Kongres Farmakologi gibran tanaman herbal UGM