RADAR PURWOREJO - Cacing tembiluk, yang dikenal juga sebagai cacing kayu merupakan salah satu hewan yang sering ditemukan di hutan kalimantan.
Cacing ini hidup di dalam kayu yang lapuk dan sering menjadi incaran masyarakat setempat karena nilai gizi dan manfaatnya yang luar biasa.
Mungkin bagi sebagian orang sajian cacing tembiluk mungkin terasa geli sekaligus jijik.
Namun, di Kalimantan, kebiasaan mengkonsumsi cacing tembiluk ini sudah dilakukan sejak dahulu, dan diterapkan secara turun temurun oleh masyarakat dayak.
Mengingat masyarakat adat di Indonesia punya kebiasaan berburu di hutan.
Cacing tembiluk biasanya hidup didaerah perairan payau.
Cacing ini dapat dijumpai di dalam batang kayu yang membusuk di muara sungai.
Cacing dengan nama ilmiah Bactronophorus thoracites itu termasuk kelompok moluska.
Itulah yang membuatnya terasa lunak.
Tak ada kerangka tulang belakang.
Cacing ini masih eksis hingga kini sebagai kuliner masyarakat Dayak karena jumlahnya yang berlimpah dan mudah ditemukan di Kalimantan.
Baca Juga: Kembali Usai Cuti Kampanye, Bupati dan Wakil Bupati Kebumen Kumpulkan PKL di Pendopo Kabumian
Masyarakat dayak mengkonsumsi cacing tembiluk ini karena memiliki rasa enak dan kaya akan manfaat lainnya, cacing ini memiliki tekstur yang lembut dan rasa yang cenderung manis, tetapi kembali lagi rasa cacing tembiluk tergantung pada dimana hewan tersebut ditemukan.
Selain dikonsumsi sebagai bahan protein cacing tembiluk dipercaya juga dijadikan sebagai obat.
Seperti merangsang produksi ASI, meradakan nyeri pinggang, rematik, malaria, flu dan batuk.
Dalam mencari cacing tembiluk cukup mudah bagi masyarakat dayak karena mereka hanya mengandalkan parang saja ketika mencari.
Dengan cara membelah belah batang pohon yang mengambang di muara sungai, ketika sudah dibelah akan muncul rongga-rongga yang menjadi sarang bagi cacing tembiluk.
Setelah menemukan sarangnya tinggal mencabut cacing cacing yanng terlihat, cara pengolahan cacing ini cukup beragam ada yang cuma dicuci lalu dimakan ada juga yang ditambah menggunakan perasan jeruk dan garam. (Aqi Vaala)