Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Simak, Inilah Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan

Nadiva Aiszhabella • Jumat, 29 Maret 2024 | 01:20 WIB
Ilustrasi pemandangan senja Adzan Magrib. Keutamaan doa setelah adzan.
Ilustrasi pemandangan senja Adzan Magrib. Keutamaan doa setelah adzan.

RADAR PURWOREJO – Pada setiap bulan Ramadhan, seluruh umat muslim akan bertemu dengan malam-malam yang istimewa, diantaranya adalah malam Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar. Namun, antara kedua malam tersebut apakah terdapat perbedaan? Berikut penjelasannya.

Baik Nuzulul Qur’an maupun Lailatul Qadar, keduanya adalah waktu dimana Al- Qur’an diturunkan. Malam Nuzulul Qur’an diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an pada setiap tanggal 17 Ramadhan. Penjelasan terkait Malam Lailatul Qadar sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an juga telah dijelaskan dalam Surah Al-Qadr Ayat 1. Lalu apakah yang memebedakannya?

Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Perbedaan keduanya terletak pada pengertian dan waktu terjadinya.

Secara istilah, Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya Al-Qur'an pertama kali. Sementara Lailatul Qadar dikenal sebagai malam kemuliaan yang lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana tafsir dalam Surah Al-Qadr ayat 3.

Dilansir dari NU Online, beberapa pakar tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan melalui dua kali proses. Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wahidah).

Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman). Sebelum diterima Nabi di bumi, Allah terlebih dahulu menurunkannya secara menyeluruh di langit dunia, dikumpulkan jadi satu di Baitul Izzah.

Kemudian, malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi di bumi secara berangsur, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan selama dua puluh tahun. Pendapat lain mengatakan dua puluh satu tahun.

Pakar tafsir terkemuka, Syekh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi menyatakan:

وَلَا خِلَافَ أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ كَانَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ بِهِ نَجْمًا نَجْمًا فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْأَسْبَابِ، وَذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً.

Artinya: Tidak ada perbedaan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan seperti penjelasan kami. Maka Al-Qur’an terlebih dahulu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia.

Kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur tentang perintah, larangan dan sebab-sebab lainnya. Demikian itu terjadi selama 20 tahun

Selama proses turunnya Al-Qur’an secara total, yang terjadi di malam Lailatul Qadar, tepatnya pada malam 24 bulan Ramadhan. Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari menyampaikan riwayat tersebut dalam kitab tafsirnya yang berbunyi:

كَمَا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ أَبِي الْأَشْرَسِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً مِنَ الذِّكْرِ فِي لَيْلَةِ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ، فَجُعِلَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ

Artinya: Sebagaimana bercerita kepadaku Abu Kuraib, beliau berkata, bercerita kepadaku Abu Bakr bin ‘Ayyasy dari al-A’masy dari Hassan bin Abi al-Asyras dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas beliau berkata: Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan pada malam 24 dari bulan Ramadhan, kemudian diletakan di Baitul Izzah.

Dalam proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap, wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surat al-‘Alaq dari ayat satu sampai lima. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, Nabi menerima wahyu untuk pertama kalinya ketika beliau berusia 40 tahun.

Peristiwa inilah yang kita sebut sebagai peristiwa Nuzulul Qur’an. Nuzulul Qur'an mengacu pada sejarah pertama kali turunnya Al-Qur’an dalam proses kedua, yaitu dari Baitul Izzah kepada Nabi di bumi.

Sementara itu, Lailatul Qadar adalah yang biasanya kita tahu selalu jatuh pada 10 hari terakhir Ramadan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya: "Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan." (HR Bukhari dalam Shahih-nya dan terdapat dalam Fath Al-Baari bab Fadhl Lailatul Qadar.

Sebagian ulama berpendapat berbeda terkait kapan tepatnya malam Lailatul Qadar, diantaranya menyatakan antara tanggal 21, 23, 25, dan 29 Ramadhan.

Namun, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada 27 Ramadhan. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA. Rasulullah SAW bersabda,

"Siapa saja yang berupaya untuk mendapat malam Lailatul Qadar, hendaklah ia berupaya untuk mendapatinya pada malam ke-27." (HR Ahmad)

Itu tadi adalah penjelasan mengenai perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar. Wallahu’alam

Editor : Heru Pratomo
#surat #nuzulul quran #jibril #lailatul qadar #ramadhan #Baitul Izzah