Ada sesuatu dari malam ini yang membuat banyak orang Jawa teringat pada keyakinan lama: bahwa malam Jumat Legi adalah malam istimewa. Kepercayaan itu telah diwariskan turun-temurun dan masih sering diperbincangkan hingga kini.
Asal-usul Keistimewaan Malam Jumat Legi
Sejak kecil, banyak orang Jawa mendengar bahwa malam Jumat Legi memiliki “aura berbeda”. Namun, tak ada dalil pasti yang menjelaskan mengapa hari itu dianggap sakral. Dalam Islam, hari Jumat memang disebut sebagai sayyidul ayyam — penghulu segala hari. Rasulullah SAW bersabda bahwa hari Jumat adalah hari terbaik, penuh keberkahan dan doa yang mustajab.
Namun, ketika hari Jumat bersanding dengan pasaran “Legi” dalam kalender Jawa, maknanya menjadi lebih kompleks. Di sinilah seni sinkretisme Islam dan budaya Jawa berpadu: doa bertemu dengan kearifan lokal, dzikir berpadu dengan primbon.
Menurut hitungan neptu Jawa, Jumat bernilai 6 dan Legi bernilai 5. Jika dijumlahkan, hasilnya 11 — dua bilangan prima yang melambangkan pertemuan antara jagat gede (alam semesta) dan jagat cilik (diri manusia). Saat keduanya bersatu, dipercaya batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi tipis. Di momen itu, manusia dianggap lebih dekat dengan kekuatan spiritual semesta.
Momen Bersejarah di Malam Jumat Legi
Beberapa catatan sejarah juga menambah aura sakral malam Jumat Legi. Kerajaan Majapahit diyakini berdiri pada hari Jumat Legi. Bahkan, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 juga terjadi di hari yang sama, bertepatan dengan bulan Ramadan. Seolah semesta ikut “bersekongkol” menghadirkan peristiwa besar di hari penuh makna itu.
Legenda lain menyebut, Sunan Kalijaga memperoleh pusaka Kutang Ontokusumo pada malam Jumat Legi setelah khatam Al-Qur’an di Masjid Agung Demak. Karena itulah banyak masyarakat Jawa memilih malam Jumat Legi untuk berziarah, tahlilan, dan bertafakur dalam keheningan.
Weton dan Tradisi Jawa
Dalam budaya Jawa, dikenal istilah weton — kombinasi antara hari dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Weton digunakan untuk menentukan hari lahir dan meramal karakter seseorang. Kepercayaan ini menjadi bagian penting dalam sistem nilai dan perhitungan spiritual masyarakat Jawa.
Di antara semua weton, malam Jumat Kliwon dianggap paling mistis. Beragam mitos menyebut malam ini sebagai waktu ketika dunia gaib lebih aktif. Banyak kisah horor populer yang berakar dari kepercayaan ini dan berkembang menjadi budaya lisan yang terus hidup hingga sekarang.
Kepercayaan pada Malam Jumat Kliwon
Sebagian masyarakat Jawa masih melakukan ritual tolak bala pada malam Jumat Kliwon. Mereka menyalakan dupa, memberi sesajen, dan berdoa di tempat keramat agar terhindar dari gangguan makhluk halus. Banyak pula yang menghindari bepergian jauh atau memulai pekerjaan besar pada malam ini karena diyakini membawa risiko buruk.
Tradisi ini juga tercatat dalam naskah klasik seperti Serat Centhini, yang menggambarkan malam Jumat Kliwon sebagai malam paling sakral, saat aktivitas dunia gaib mencapai puncaknya. Meski bersifat fiksi, pengaruhnya terhadap cara pandang masyarakat tetap kuat hingga kini.
Malam Jumat dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, malam Jumat memiliki kedudukan istimewa. Umat Muslim dianjurkan memperbanyak ibadah seperti membaca surat Yasin, berdzikir, dan mendoakan leluhur. Rasulullah SAW bersabda:
“Hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat; pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dan dikeluarkan dari surga.” (HR. Muslim)
Karena itu, malam Jumat diyakini sebagai waktu terbaik untuk berdoa dan memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Tradisi Mandi Kembang dan Makna Spiritualnya
Selain ritual keagamaan, masyarakat Jawa juga mengenal tradisi mandi kembang pada malam Jumat. Air bercampur bunga mawar, kenanga, dan melati dipercaya dapat membersihkan diri dari energi negatif. Ritual ini juga sering dilakukan calon pengantin sebelum menikah sebagai simbol penyucian lahir dan batin.
Meskipun tak memiliki dasar ilmiah, tradisi mandi kembang tetap dilestarikan karena dianggap bagian dari warisan spiritual dan kebudayaan Jawa.
Antara Mitos dan Makna
Malam Jumat, baik Legi maupun Kliwon, menunjukkan betapa kaya dan dalamnya budaya Jawa memaknai waktu. Di balik angka dan pasaran, tersimpan upaya manusia untuk menjalin hubungan dengan Sang Pencipta dan semesta.
Mungkin, yang sakral bukanlah malamnya, tetapi cara kita memaknai waktu—antara yang fana dan abadi, antara manusia dan semesta.
Wallahu a‘lam.
Editor : Jihad Rokhadi