Ziarah Kubur di Bulan Syawal: Tradisi Melepas Rindu, Pengingat Kematian dan Penguat Silaturahmi
Jihad Rokhadi• Selasa, 24 Maret 2026 - 09:09 WIB
ilustrasi ziarah kubur
RADAR JOGJA – Momen Hari Raya Idulfitri identik dengan kemenangan, kebahagiaan, dan silaturahmi antar keluarga. Namun, di balik suasana penuh suka cita tersebut, terdapat tradisi yang tak kalah kuat mengakar di masyarakat Indonesia, yakni ziarah kubur di bulan Syawal.
Setelah saling bermaafan dengan keluarga yang masih hidup, umat Muslim biasanya melanjutkan tradisi dengan mengunjungi makam orang tua, saudara, maupun leluhur. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam.
Pengertian dan Makna Ziarah Kubur
Ziarah kubur merupakan aktivitas mengunjungi makam dengan tujuan mendoakan orang yang telah meninggal dunia sekaligus mengingat kematian. Dalam ajaran Islam, praktik ini dianjurkan karena menjadi sarana refleksi diri terhadap kehidupan akhirat.
Momentum bulan Syawal, yang datang setelah Idulfitri, sering dimanfaatkan umat Muslim untuk melakukan ziarah, baik secara individu maupun bersama keluarga besar.
Mengapa Dilakukan di Bulan Syawal?
Secara syariat, ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja. Namun, pelaksanaannya di bulan Syawal memiliki nilai emosional dan sosial yang lebih kuat.
Pertama, ziarah kubur menjadi pelengkap silaturahmi. Tidak hanya kepada yang masih hidup, tetapi juga sebagai bentuk bakti kepada mereka yang telah wafat.
Kedua, ziarah menjadi pengingat di tengah kebahagiaan Lebaran. Saat masyarakat menikmati hidangan dan mengenakan pakaian terbaik, ziarah mengingatkan bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara.
Ketiga, tradisi ini menjadi ajang berkumpul keluarga besar, terutama saat momentum mudik, sehingga dilakukan secara bersama-sama.
Keutamaan Ziarah Kubur
Ziarah kubur di bulan Syawal memiliki sejumlah keutamaan, antara lain:
Mengingatkan manusia akan kematian dan kehidupan akhirat
Memberikan doa kepada ahli kubur yang diyakini dapat sampai kepada mereka
Mempererat hubungan keluarga melalui tradisi bersama
Menjadi bagian dari tradisi baik (urf) yang tidak bertentangan dengan syariat
Dalil Ziarah Kubur
Ziarah kubur memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:
"Dulu aku melarangmu melakukan ziarah kubur, sekarang ziarahlah ke kubur, karena hal itu dapat mengingatkanmu pada akhirat." (HR. Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa ziarah kubur dianjurkan karena membawa manfaat spiritual bagi umat Muslim.
Adab dan Tata Cara Ziarah Kubur
Agar tidak sekadar menjadi ritual seremonial, ziarah kubur perlu dilakukan dengan memperhatikan adab yang benar.
Saat memasuki area pemakaman, dianjurkan mengucapkan salam kepada ahli kubur, seperti:
“Assalamu’alaikum ya ahlal qubur...”
Selanjutnya, peziarah dianjurkan untuk mendoakan almarhum dengan memohonkan ampunan dan rahmat. Membaca ayat suci Al-Qur’an seperti Al-Fatihah atau Surah Yasin juga diperbolehkan menurut sebagian ulama.
Selain itu, penting untuk menjaga sikap dan kesopanan, seperti tidak duduk atau menginjak makam, serta menjaga kebersihan lingkungan.
Ziarah juga harus diniatkan karena Allah SWT, bukan untuk meminta sesuatu kepada orang yang telah meninggal.
Tradisi Nyekar dan Tabur Bunga
Di Indonesia, ziarah kubur sering dikenal dengan istilah nyekar, khususnya di wilayah Jawa. Tradisi ini biasanya dilakukan dengan membersihkan makam, menabur bunga, serta menyiram air sebagai simbol penghormatan dan kasih sayang kepada almarhum.
Meski bersifat kultural, praktik ini tetap diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Waktu Pelaksanaan
Tidak ada waktu khusus yang diwajibkan untuk ziarah kubur. Namun, masyarakat umumnya melakukannya pada:
Hari pertama Idulfitri
Beberapa hari setelah Lebaran
Sepanjang bulan Syawal
Selama dilakukan dengan niat baik dan sesuai tuntunan syariat, ziarah kubur dapat dilakukan kapan saja.
Penutup
Ziarah kubur di bulan Syawal bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi jembatan spiritual antara yang hidup dan yang telah meninggal.
Melalui ziarah, umat Muslim tidak hanya mengirimkan doa, tetapi juga diingatkan untuk lebih rendah hati, bersyukur, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat.