Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Tradisi Syawalan Versi Masa Kini

Administrator • Sabtu, 6 Mei 2023 - 16:30 WIB
Pengurus syawalan trah dari Trah Notosehono, Ika Ningsih.(DOKUMENTASI PRIBADI)
Pengurus syawalan trah dari Trah Notosehono, Ika Ningsih.(DOKUMENTASI PRIBADI)
RADAR PURWOREJO - Tradisi syawalan di bulan Syawal masih menjadi tradisi. Tak terkecuali syawalan trah yang dilakukan oleh masyarakat Jawa guna mempererat persaudaraan. Tidak hanya mengumpulkan saudara dari keluarga kakek-nenek, namun diikuti oleh sanak saudara yang diperhitungkan dengan mengambil salah satu nenek moyang tertentu sebagai pangkal perhitungannya.

Akibat aktivitas warga masyarakat yang semakin meningkat, jumlah anggota trah yang hadir dalam perkumpulan pun cenderung menurun. Berbagai cara dan upaya dilakukan pengurus trah untuk menarik minat kehadiran anggota keluarga. Baik melalui perubahan manajemen, maupun menambah mata acara dalam syawalan.

Salah satu anak muda yang berperan dalan acara syawalan trah adalah Ika Ningsih. Baru tahun ini dia ikut mengurus acara syawalan dari Trah Notosehono. Dia pun mengaku, ada perubahan konsep dari acara maupun dalam berbagai aspek pengemasannya.

"Ada perbedaan dari tahun-tahun lalu yang diurusi oleh para orang tua," ujarnya.

Menurut Ika dari segi acara, syawalan trah terkesan lebih santai karena menggunakan konsep anak muda. Dan dari segi penataan properti, disebut lebih gemerlap dan lebih cerah. "Ya itu karena berkembangnya zaman maka kita mencoba untuk mengikutinya," katanya.

Dari segi makanan juga berbeda. Lebih memilih menu modern seperti bakso, soto, siomay, dan es krim. Seluruhnya dipesan, dan dirasa lebih efisien dan tidak merepotkan. “Kalau dulu kan orang-orang tua kita sering masak sendiri dan menyiapkannya sendiri. Itu capek dan repot," tuturnya.

Untuk acara, Ika menyebut tidak jauh beda dengan acara sebelumnya. Hal ini karena untuk menghormati orang tua yang terdahulu. Namun untuk MC atau pranatacara, dipilih dengan pembawaan yang lebih santai dan bisa menggunakan bahasa Indonesia.

"Kalau dulu MC dalam membawakan acara dengan bahasa Jawa halus dan kita kurang mengerti," paparnya.

Hiburan yang disajikan, juga telah mengikuti zaman. Seperti menampilkan pemusik dangdut, hingga pop yang bisa menyanyikan lagi-lagu saat ini.

"Ya kalau musik kan lebih asyik sekarang. Dan ketika para keluarga kumpul, mereka juga bisa nyanyi bersama-sama. Pokoknya senang," ucapnya.

Ika pun berharap, acara syawalan trah tetap harus dipertahankan. Karena itu adalah suatu momen untuk berkumpul dengan sanak saudara yang sudah jarang bertemu. (cr2/eno)
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Administrator
#Tradisi syawalan #syawalan trah