Ia juga telah beralih untuk menjual gesper yang lebih umum dipakai oleh orang-orang saat ini. "Zaman berubah, sekarang jualannya gesper biasa seperti yang banyak orang pakai aja," katanya kepada Radar Jogja (9/11).
Kendati demikian, Setiyono mengaku masih bisa mengusahakan untuk mencarikan apabila ada pesanan khusus dari pelanggan ketika menginginkan gesper gesper lawas. Rata-rata pelanggan yang meminta dicarikan gesper lawas adalah orang-orang yang sudah cukup tua dan berasalan karena pernah memiliki gesper itu saat masih muda. "Biasanya yang suka cari itu usia di atas 50-an tahun, karena pas muda pernah punya," tuturnya.
Baca Juga: Asa Andalkan Augusto dan Kim, PSIM Jogja Siap Menantang PSKC Cimahi
Setiyono mengatakan, secara umum gesper lawas memiliki keunikan dari motif dan bentuk yang sangat bervariasi. Hal itu yang membuat beberapa orang masih ingin menggunakannya saat ini. "Bentuknya macam-macam, ada bendera warna-warni, tengkorak sampai grup band juga ada," terangnya.
Disebutnya, ketika ada permintaan khusus dari pelanggan ia akan menghubungi ke pedagang lain. Hal itu dilakukan karena sudah jarang atau tidak ada lagi produsen yang mengeluarkan gesper lawas itu.
"Tanya temen yang juga pedagang biasanya. Pembeli itu kalau memang pengen mereka mau menunggu untuk dicarikan," tuturnya.
Secara umum gesper yang dijualnya saat ini berkisar di harga Rp 20 ribuan. Namun ketika ada permintaan khusus, ia bisa mematok harga lebih, menyesuaikan kesepakatan dengan pembeli itu. "Harganya sih ya nego aja kalo itu. Pernah sih saya jual satu yang lawas Rp 100 ribu," ungkapnya. (iza/laz)