RADAR PURWOREJO - Perkembangan zaman membawa perubahan besar dalam cara orang tua dalam membesarkan anak.
Jika dahulu pola asuh keras dan penuh aturan seperti parenting VOC dianggap wajar, kini banyak keluarga muda mulai beralih ke gentle parenting yang lebih empatik dan komunikatif.
Perdebatan antara gentle parenting vs parenting VOC pun semakin sering muncul, terutama di era digital yang menuntut anak tidak hanya disiplin, tetapi juga sehat secara emosional.
Apa Itu Parenting VOC?
Melansir timedooracademy.com, parenting VOC adalah istilah populer untuk menggambarkan pola asuh otoriter yang menekankan disiplin ketat, kepatuhan mutlak, dan kontrol penuh dari orang tua.
Istilah ini diadaptasi dari gaya kepemimpinan VOC pada masa kolonial Belanda yang dikenal keras dan tidak memberi ruang negosiasi.
Dalam parenting VOC, orang tua berperan sebagai penguasa, sementara anak dituntut untuk patuh tanpa banyak bertanya.
Ciri utama parenting VOC antara lain aturan yang kaku dan tidak bisa dinegosiasikan, komunikasi satu arah, penggunaan hukuman sebagai alat disiplin, serta minimnya dukungan emosional.
Anak sering kali diminta kuat, mandiri, dan berprestasi sejak dini, bahkan dengan mengorbankan perasaan mereka.
Dampak Parenting VOC bagi Anak
Dalam jangka pendek, parenting VOC memang dapat membentuk anak yang disiplin, patuh, dan tahan banting.
Anak terbiasa mengikuti aturan dan menghormati otoritas karena hidup dalam struktur yang jelas.
Hal inilah yang membuat sebagian orang tua masih mempertahankan pola asuh ini.
Namun, dalam jangka panjang, parenting VOC berisiko menimbulkan dampak negatif seperti rendahnya kepercayaan diri, kesulitan mengekspresikan emosi, stres berlebihan, serta hubungan yang renggang antara anak dan orang tua.
Anak bisa tumbuh dengan rasa takut, bukan rasa hormat, dan berpotensi mengalami trauma atau pemberontakan saat dewasa.
Apa Itu Gentle Parenting?
Berbeda dengan parenting VOC, gentle parenting adalah pola asuh yang menekankan empati, komunikasi dua arah, dan hubungan emosional yang sehat antara orang tua dan anak.
Melansir motherandbeyond.id, konsep ini diperkenalkan oleh Sarah Ockwell-Smith dan didasarkan pada penelitian tentang perkembangan anak.
Gentle parenting bertujuan membesarkan anak yang percaya diri, bahagia, dan mampu mengelola emosinya dengan baik.
Gentle parenting sering disalahartikan sebagai pola asuh tanpa aturan.
Padahal, gentle parenting tetap memiliki batasan yang jelas, hanya saja diterapkan dengan cara yang lembut, penuh pengertian, dan sesuai usia anak.
Fokusnya bukan pada hukuman, melainkan pada pembelajaran dan tanggung jawab.
Prinsip Utama Gentle Parenting
Menurut Sarah Ockwell-Smith, gentle parenting memiliki empat etos utama, yaitu empati, saling menghormati, pengertian, dan batasan.
Orang tua diajak untuk memahami bahwa anak belum memiliki kemampuan emosional seperti orang dewasa, sehingga membutuhkan bimbingan, bukan tekanan.
Dengan pendekatan ini, anak belajar berempati karena orang tua memberi contoh empati.
Anak juga belajar menghormati orang lain karena dirinya sendiri dihormati, bukan ditakuti.
Manfaat Gentle Parenting bagi Perkembangan Anak
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan positif antara orang tua dan anak dapat membantu anak tumbuh lebih bahagia, mandiri, dan ulet.
Gentle parenting juga membantu meningkatkan kecerdasan emosional, kemampuan sosial, serta mengurangi risiko kecemasan berlebih pada anak.
Pendekatan lembut namun tegas ini membantu anak menjadi lebih toleran terhadap frustrasi dan lebih fleksibel saat menghadapi masalah.
Anak tidak hanya tahu apa yang benar dan salah, tetapi juga memahami alasan di balik aturan tersebut.
Gentle Parenting vs Parenting VOC di Era Digital
Di era digital, anak tumbuh dengan akses informasi yang luas dan tantangan sosial yang kompleks.
Parenting VOC yang terlalu kaku berisiko membuat anak merasa terkekang dan tidak dimengerti.
Sementara itu, gentle parenting dinilai lebih relevan karena mendorong anak berpikir kritis, terbuka, dan mampu mengelola emosi.
Meski begitu, gentle parenting tanpa batasan yang jelas juga dapat membingungkan anak.
Oleh karena itu, banyak ahli menyarankan kombinasi nilai positif dari keduanya, yakni disiplin dan tanggung jawab dari parenting VOC, serta empati dan komunikasi dari gentle parenting.
Pola Asuh Mana yang Lebih Baik?
Gentle parenting dan parenting VOC memiliki tujuan yang sama, yaitu membentuk anak agar siap menghadapi masa depan.
Namun, cara yang digunakan sangat berbeda.
Parenting VOC lebih menekankan kepatuhan dan hasil, sementara gentle parenting fokus pada proses dan kesehatan emosional anak.
Di era modern, gentle parenting yang dilengkapi batasan tegas dinilai lebih efektif untuk membentuk anak yang disiplin, percaya diri, dan sehat secara mental.
Orang tua disarankan menyesuaikan pola asuh dengan kebutuhan anak dan tidak ragu berkonsultasi dengan ahli jika diperlukan. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)
Editor : Meitika Candra Lantiva