Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Jangan Buru-Buru Nikah Muda, Persiapan Matang Jadi Kunci Keluarga Sehat

Magang Radar Jogja • Selasa, 10 Maret 2026 | 12:42 WIB

Nikah bukan hanya sekadar keberanian, tetapi juga harus diiringi dengan persiapan yang matang.
Nikah bukan hanya sekadar keberanian, tetapi juga harus diiringi dengan persiapan yang matang.

RADAR PURWOREJO - Isu pernikahan di usia muda masih menjadi perbincangan hangat di kalangan generasi Z.

Di satu sisi, menikah muda kerap dipandang sebagai bentuk keberanian mengambil komitmen.

Namun di sisi lain, semakin banyak anak muda yang mulai bertanya apakah menikah sekadar soal siap secara usia, atau justru soal kesiapan menghadapi kehidupan setelahnya?

Bagi Gen Z, pernikahan tidak lagi dipahami hanya sebagai akhir dari masa lajang, melainkan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Perubahan peran, tuntutan ekonomi, hingga kesiapan mental menjadi orang tua menjadi pertimbangan yang semakin disadari penting.

Tidak sedikit pasangan muda yang mengaku terkejut setelah menikah.

Hal-hal kecil seperti pembagian peran, perbedaan kebiasaan, hingga cara mengelola emosi sering kali menjadi sumber konflik.

Tanpa kesiapan mental yang matang, tekanan tersebut dapat menumpuk dan berdampak pada kesehatan hubungan.

Kesadaran Gen Z terhadap isu kesehatan mental turut memengaruhi cara mereka memandang pernikahan.

Menikah bukan lagi sekadar tentang siap bersama saja, tetapi juga tentang siap menghadapi masalah.

Banyak anak muda kini menyadari bahwa luka emosional yang tidak diselesaikan sebelum menikah berisiko terbawa ke dalam rumah tangga.

Aspek lain yang tak kalah penting adalah kesiapan menjadi orang tua.

Mengasuh anak bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membangun rasa aman dan kelekatan emosional.

Tanpa bekal pengetahuan parenting yang memadai, pola asuh sering kali berjalan secara spontan, bahkan tanpa disadari mengulang kesalahan dari generasi sebelumnya.

Bagi Gen Z, anak tidak lagi dipandang sebagai bonus setelah menikah, melainkan amanah besar yang memerlukan kesiapan sejak awal.

Kesalahan dalam pola asuh dapat meninggalkan dampak jangka panjang bagi tumbuh kembang anak, baik secara emosional maupun sosial.

Selain mental dan pengetahuan, faktor finansial juga menjadi perhatian utama.

Stabilitas ekonomi bukan berarti harus mapan sepenuhnya, tetapi setidaknya memiliki perencanaan yang realistis.

Tekanan ekonomi yang berat sering kali menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga, dan dalam kondisi terburuk, pasangan maupun anak bisa menjadi pihak yang paling terdampak.

Gen Z dikenal lebih terbuka membicarakan realitas hidup, termasuk soal karier yang belum stabil, biaya hidup yang tinggi, dan ketidakpastian masa depan.

Kesadaran ini membuat sebagian anak muda memilih untuk tidak terburu-buru menikah.

Hal ini bukan hanya sekadar karena menolak komitmen, melainkan ingin memastikan bahwa keputusan tersebut tidak melahirkan penyesalan di kemudian hari.

Menikah muda bukanlah keputusan yang keliru.

Namun, tanpa kesiapan mental, pengetahuan parenting, dan kondisi finansial yang cukup, pernikahan berisiko menjadi ruang penuh tekanan, bukan tempat bertumbuh bersama.

Pada akhirnya, Gen Z mulai memaknai pernikahan sebagai proses yang membutuhkan persiapan, bukan sekadar keberanian.

Menunda menikah demi mempersiapkan diri tidak selalu berarti takut berkomitmen, melainkan bentuk tanggung jawab agar pasangan dan anak kelak tidak tumbuh dalam situasi yang penuh luka. (Raka Adichandra)

]

Editor : Meitika Candra Lantiva
#nikah muda #Buru Buru Nikah Muda #persiapan matang #Kunci Keluarga Sehat