RADAR PURWOREJO - Ayam kampung dan ayam broiler adalah dua jenis ayam yang paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Keduanya memiliki perbedaan dalam cara pemeliharaan, bentuk fisik, tekstur daging, hingga kandungan gizinya.
Perbedaan inilah yang membuat keduanya memiliki target pasar yang berbeda, baik untuk kebutuhan memasak maupun dalam memenuhi pola hidup tertentu.
Baca Juga: Dalih Nikah-nikahan, Pria Cabuli Remaja di Gunungkidul: Polres Sebut Jadi Modus Kekerasan Seksual
Berikut perbedaan cara pemeliharaan, bentuk fisik, tekstur daging, hingga kandungan gizi dikutip dari akun Instagram Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (@dkpp_jabar):
1. Cara Pemeliharaan
Pemeliharaan ayam broiler dilakukan dengan sistem intensif dan didukung oleh pemberian pakan khusus yang kaya akan vitamin dan nutrisi.
Dengan sistem pengawasan yang selalu terkontrol, ayam broiler dapat dipanen dalam waktu singkat, sekitar 40 hari.
Sebaliknya, ayam kampung dipelihara secara alami dan memiliki ruang gerak lebih bebas.
Pertumbuhan ayam kampung lebih lambat dibandingkan dengan ayam broiler karena tidak didukung oleh vitamin pendukung, sehingga baru bisa dipanen pada usia 5-6 bulan.
Baca Juga: Tak Ingin Kekeringan di 2023 Terulang, DPKP DIY Siapkan Langkah Antisipasi Hadapi El Nino Godzilla
2. Fisik dan Tekstur
Ciri khas ayam broiler memiliki bentuk fisik gemuk dengan daging yang lembut dan berair serta warna daging yang cenderung pucat dan tidak membutuhkan waktu lama ketika dimasak.
Sedangkan ayam kampung memiliki tekstur daging lebih padat, kenyal, dan berwarna lebih gelap.
Untuk memasak daging ayam kampung, membutuhkan waktu yang cukup lama, meski begitu ayam kampung memiliki cita rasa yang lebih gurih dan autentik.
3. Kandungan Gizi
Ayam broiler mengandung lemak yang lebih tinggi, sehingga cocok untuk makanan cepat saji seperti ayam goreng tepung.
Kandungan lemak inilah yang membuat dagingnya cepat matang dan terasa empuk.
Baca Juga: Kenaikan Harga Plastik Belum Pengaruhi Inflasi, BPS DIY Sebut Tunggu Bulan Mei
Sementara itu, kandungan protein dalam ayam kampung lebih tinggi dibandingkan kandungan lemaknya.
Sehingga menghasilkan rasa daging yang lebih gurih cocok untuk masakan tradisional seperti soto, gulai, atau ingkung.
Melalui perbedaannya, baik ayam kampung maupun ayam broiler memiliki kelebihannya masing-masing.
Pilihan akhirnya kembali pada kebutuhan, selera, serta jenis masakan yang ingin dibuat.
Dengan memahami perbedaan dari cara pemeliharaan, tekstur, hingga kandungan gizinya, kita bisa menentukan jenis ayam yang paling sesuai untuk dikonsumsi sehari-hari. (Desfina Citra)
Editor : Meitika Candra Lantiva