RADAR PURWOREJO - Sekelompok pria asal Paremono, Mungkid menenggak minuman keras (miras) oplosan yang diduga berisi racikan kandungan alkohol parfum pada Minggu malam (25/8). Nahasnya, dua orang dinyatakan meninggal dunia.
Ketua RT 4/RW 4, Dusun Paremono, Paremono Muslih mengutarakan, ada enam orang yang meneggak miras pada Minggu malam. Dia memperkirakan, mereka mabuk menggunakan miras oplosan. "Tapi, nggak tahu ngoplos sendiri atau beli. Kemungkinan ngoplos sendiri di rumah," bebernya saat ditemui, Selasa (27/8).
Muslih mengatakan, mereka mabuk-mabukan sembari berjalan di sepanjang gang RT 4/RW 4. Hanya saja, mereka baru merasakan efek dari miras oplosan saat Senin (26/8) siang hingga malam hari. Gejalanya pun sama. Mulai dari mual, muntah, pusing, hingga sesak napas.
Hal itu membuat sejumlah warga curiga karena gejala yang dialami sama. Lantas, mereka segera dilarikan ke rumah sakit. Namun, satu di antaranya meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit. Lalu, tiga orang dirawat di RSUD Muntilan, dan satu lainnya di RSUD Merah Putih.
Kasat Reskrim Polresta Magelang Kompol Muhammad Fachrur Rozi menjelaskan, sekitar pukul 05.00, Polsek Mungkid mendapat laporan dari kepala desa setempat bahwa ada warganya yang meninggal dunia. Yang diduga karena mengonsumsi miras oplosan. Polisi pun segera mendatangi TKP.
Adapun korban berinisial MB, 20 yang meninggal dunia pada Selasa (27/8) dini hari. Kemudian, MF, 25; B, 17; dan AM, 21 yang menjalani perawatan intensif di RSUD Muntilan. Namun, MF juga meninggal dunia usai kritis sekitar pukul 13.30. Terakhir WO, 20 yang saat ini dalam kondisi koma di RSUD Merah Putih.
Sebetulnya, MF baru saja pulang dari tanah rantau di Jakarta. Lantas, mengajak temannya, WO untuk bertemu. WO pun mengiyakan dan mendatangi MF di rumahnya. Mereka mengobrol dan keluar rumah selepas Magrib.
Kemudian, mereka nongkrong di depan konter HP, tepatnya di sebelah rumah MF sembari membawa miras oplosan. Keduanya sepakat untuk memanggil empat teman lain, yakni MB, B, AM, dan MM. Dari situlah, mereka mulai menenggak miras yang disiapkan oleh MF.
Namun, MM yang merupakan kakak MB hanya mencicipi sedikit. Karena MM mencium aroma parfum dari miras. Terlebih, dari keterangan MM, rasa pahit dari miras itu cenderung awet dan terasa panas di tenggorokan. Akhirnya, MM memuntahkannya dan tidak melanjutkan minum.
Rozi menyebut, pemilik konter merasa terganggu dengan aktivitas mereka. Lantas, mereka diminta untuk berpindah tempat jika ingin bermabuk-mabukan. Sekelompok pria itu kemudian berjalan di sepanjang gang di samping rumah MF.
Dia mengatakan, mereka baru merasakan efek samping dari miras itu mulai Senin (26/8) sekitar pukul 03.00. Gejalanya sama. Mulai dari mual, muntah, panas di sekujur tubuh, hingga sesak napas. "Dari keterangan keluarga, mereka mandi dari pagi sampai malam secara terus-menerus," paparnya.
Karena itu, mereka segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Hanya saja, MB meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit pada Selasa (27/8) dini hari. Namun, MB tidak dilakukan autopsi. Polisi hanya mengambil sampel urine, air liur, dan darah untuk mengetahui zat yang terkandung di dalam miras.
Selang beberapa jam kemudian, MF akhirnya menyusul MB. MF dinyatakan meninggal dunia pada Selasa siang setelah sempat dinyatakan kritis. Kemudian, kata Rozi, B dan AM masih menjalani perawatan intensif di RSUD Muntilan.
Namun, keduanya belum bisa dimintai keterangan lebih lanjut terkait insiden tersebut. Sementara WO saat ini dalam keadaan koma di RSUD Merah Putih. Dari TKP rumah MF, polisi menemukan botol kosong, botol berisi alkohol etanol dengan kadar 98 persen, botol parfum, bekas muntahan, dan lainnya.
Berdasarkan pemeriksaan sementara, miras oplosan itu dicampur dengan parfum. Namun, untuk jenis mirasnya, kata Rozi, masih dalam penyelidikan. Sebab, MF sebagai peracik sudah meninggal dunia dan WO dalam kondisi koma. "Sedangkan korban lain, hanya undangan. Mereka datang, minumannya sudah jadi," sebutnya. (aya)
Editor : Satria Pradika