RADAR PURWOREJO – Harga beras di pasaran belum kunjung turun. Hingga kini, harga untuk beras jenis medium masih di angka Rp 16 ribu per kilogram (kg). Sementara beras premium, harganya mencapai Rp 17 ribu per kg. Kenaikan harga ini ditaksir bakal terus bertahan hingga Maret mendatang. Hal itu membuat masyarakat mulai memangkas jumlah pembelian.
Khususnya bagi masyarakat yang penghasilannya pas-pasan. Jika sebelumnya biasa membeli lima kilogram, saat ini hanya dua kilogram per orang. Kondisi ini terjadi sejak naiknya harga beras sejak beberapa bulan terakhir. “Pernah di harga Rp 9 ribu. Naik terus sampai Rp 12 ribu, Rp 15 ribu, sekarang malah jadi Rp 16 ribu per kg,” beber pedagang sembako di Pasar Rejowinangun Partini kemarin (14/2).
Kenaikan harga terakhir, lanjutnya, sudah bertahan sejak seminggu lalu.
Bahkan, harga tersebut diperkirakan bakal naik lagi. Lantaran terbatasnya pasokan beras dan gabah di tingkat pemasok maupun petani. Biasanya, Partini mengambil dari pemasok di Kabupaten Magelang, Solo, hingga Purworejo.
Lebih-lebih, lanjut dia, saat ini petani baru memasuki masa tanam. Tidak heran jika harga beras di seluruh wilayah mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Selain beras, harga telur juga naik. Yang semula Rp 25 ribu per kg, kini menjadi Rp 29 ribu per kg. Begitu pula dengan harga minyak dari Rp 14 ribu per liter, sekarang menjadi Rp 15 ribu.
Sama halnya dengan Partini, pedagang sembako lain Iin menyebut, harga beras Rp 16 ribu per kg ini sudah berlaku sejak seminggu lalu. “(Faktor kenaikan, Red) tidak tahu. Tiba-tiba langsung naik saja. Banyak pembeli yang ngeluh harganya naik. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga kebutuhan pokok, mereka tetap harus beli,” lontarnya.
Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Mikro Kota Magelang Syaifullah memastikan, jumlah pasokan beras di wilayahnya masih bisa mencukupi kebutuhan masyarakat hingga beberapa bulan ke depan. “(Harga, Red) beras naik sedikit. Kota Magelang relatif aman dan stoknya masih. Di level Jateng juga masih stabil,” katanya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova