RADAR PURWOREJO - Ada yang menarik perhatian dari acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur yang digelar pada Sabtu (19/9/2026) lalu.
Dalam sambutan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, terselip humor sekaligus kritik sosial yang dilontarkan langsung di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto dan ribuan peserta tamu undangan lainnya.
KH Hasan menyampaikan persoalan mengenai fenomena banyak orang yang cari muka.
Ia juga membahas mengenai penantian kedatangan Prabowo ke Gontor.
Baca Juga: Olahraga Ringan di Tengah Kota, Lapangan Realino Tawarkan Suasana Asri untuk Jogging Pagi dan Sore
Bahkan, ia juga sempat memikirkan apa yang kemungkinan terjadi jika Prabowo batal hadir dalam acara tersebut.
“Andai kata Pak prabowo hari ini nggak datang, nah ini, muka saya, saya taruh dimana? Akhirnya saya harus cari muka,”katanya.
Candaan mengenai istilah “cari muka” tersebut kemudian dilanjutkan dengan sindiran terhadap sejumlah fenomena sosial yang tengah menjadi perhatian masyarakat.
“Orang nggak punya ijazah, cari ijazah, orang yang nggak punya uang cari uang, orang yang nggak punya jabatan, cari jabatan, orang nggak punya muka, cari muka,” lontarnya.
Ungkapan tersebut disambut dengan riuh oleh sejumlah tamu undangan yang hadir.
Baca Juga: Ini Dia Resep Kunir Asam Segar, Bantu Rawat Kebugaran Perempuan!
Mereka bertepuk tangan mendengar sambutan yang disampaikan KH Hasan tersebut.
Menariknya, candaan tersebut justru menjadi sorotan banyak orang, baik para tamu undangan hingga warganet yang ikut menyaksikan.
Tak hanya dipahami sebagai candaan, melainkan juga sebagai kritikan bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Di hadapan Presiden RI dan ribuan tamu undangan, KH Hasan tidak hanya sekedar membicarakan tentang perkembangan Pondok Modern Darussalam Gontor, melainkan juga berani mengungkapkan sindiran.
Sindiran untuk kritik sosial yang disampaikan KH Hasan ini lebih terasa ringan, tidak dalam bentuk sebuah pidato yang menggurui, melainkan melalui candaan namun memberi kesan dan pesan yang mendalam.
Editor : Meitika Candra Lantiva