RADAR PURWOREJO - Ketika hutan terbakar dan kabut asap mengancam kesehatan, kritik terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hadir melalui karya seni.
Seniman dari Jambi dan Palembang menggunakan foto dan lukisan untuk menyoroti kerusakan lingkungan sekaligus mempertanyakan keseriusan penanganan bencana yang terus berulang.
Di Jambi, potret perempuan berbusana adat dengan masker hingga respirator berdiri di tengah lahan bekas terbakar.
Warna merah pakaian dan perhiasan keemasan tampak mencolok di antara tanah gosong, pepohonan menghitam, dan sisa kabut asap.
Baca Juga: Waduk Gajah Mungkur Kian Surut, Makam Lama dan Jejak Permukiman Kembali Terungkap
Kontras tersebut menyimpan kritik sosial yang tajam.
Busana adat melambangkan identitas dan warisan budaya, tetapi latar hutan yang rusak memperlihatkan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat.
Perempuan yang seharusnya tampil anggun justru harus mengenakan pelindung untuk menghadapi udara tercemar.
Potret itu mengingatkan bahwa masyarakat bukan sekadar penonton ketika karhutla terjadi.
Mereka ikut menanggung dampaknya, mulai dari ancaman kesehatan hingga kerusakan lingkungan tempat mereka hidup.
Baca Juga: Terbukti Lakukan Perundungan di Asrama, Telkom University Drop Out Dua Mahasiswa
Di Palembang, kritik terhadap karhutla juga disampaikan melalui pameran fotografi dan lukisan yang diselenggarakan Jaga Api Art Exhibition (@menjaga.api).
Karya-karya tersebut mengajak publik melihat karhutla lebih jauh dari sekadar hutan yang terbakar.
Ada persoalan kesehatan, kerusakan ekosistem, dan kehidupan masyarakat yang ikut terdampak.
Ketika kebakaran terus berulang, pertanyaan tentang pencegahan dan keseriusan
Foto dan lukisan menjadi cara bagi seniman untuk menyuarakan keresahan yang terkadang luput dari perhatian.
Baca Juga: Diduga Alami Pelecehan Seksual, Mahasiswi UIN Solo Trauma
Visual perempuan bermasker di tengah hutan hangus bukan sekadar gambaran bencana, melainkan pengingat tentang harga yang harus dibayar manusia ketika lingkungan rusak.
Kritik tersebut menempatkan karhutla bukan hanya sebagai persoalan alam, tetapi juga persoalan tanggung jawab.
Sebab, pemulihan tidak cukup berhenti pada memadamkan api.
Pencegahan, perlindungan masyarakat, dan penanganan yang konsisten juga diperlukan agar bencana serupa tidak terus berulang.
Melalui karya-karya ini, para seniman mengajak masyarakat untuk tidak menormalisasi karhutla sebagai bencana tahunan.
Hutan yang terbakar mungkin bisa menghijau kembali, tetapi dampak terhadap kesehatan, kehidupan sosial, dan lingkungan tidak selalu pulih dalam waktu singkat.
Editor : Meitika Candra Lantiva