KEBUMEN - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI Kebumen mengungkapkan masih ada sebagian guru yang menerima gaji dibawah Rp 500 ribu. Gaji di luar kewajaran tersebut mayoritas dialami guru berstatus honorer di beberapa lembaga pendidikan.
Ketua MGMP Guru PAI Kebumen Ahmad Mujai mengatakan, nasib guru sampai sekarang belum sepenuhnya diperhatikan oleh pemerintah. Kondisi ini tentu menjadi keperihatinan tersendiri bagi dunia pendidikan. Persoalan yang dihadapi guru selama ini tidak lepas karena adanya kesenjangan mengenai kesejahteraan. "Yang belum ASN dan tercatat Dapodik gaji se ikhlasnya komite. Terendah untuk guru SD paling cuma Rp 200 ribu. SMP bisa Rp 500 ribu," ungkapnya, Rabu (23/10).
Mujai menyatakan, gaji yang diterima guru honorer memang jauh dari kata layak. Berbeda jauh dengan nasib mereka yang sudah menyandang status ASN. Dia menyebut, nominal gaji atau upah guru honorer berbeda setiap daerah. Tergantung kebijakan komite bersama pihak yayasan masing-masing.
Baca Juga: Pemohon Perpanjangan dan Pembuat SIM Baru di Purworejo Rata-Rata 100 Pemohon
Baca Juga: Pasca Pelantikan, Pigura Prabowo-Gibran Laris Manis
Rata-rata, lanjut Mujai, gaji guru dibayarkan berdasar alokasi jumlah jam mengajar. Selain gaji sangat kecil guru honorer juga tidak menerima berbagai tunjangan, seperti layaknya seorang ASN. "Kalau sudah tercatat di Dapodik itu Rp 750 ribu-Rp 1 juta. Tergantung di dana BOS. Itu pun sebenarnya tidak masuk akal," jelasnya.
Mujai mengatakan, kesejahteraan memang menjadi isu strategis di kalangan guru. Oleh karena itu dia mendesak agar pemerintah segera turun tangan membenahi pelayanan pendidikan. "Tidak percaya, silahkan cek di SD. Satu bulan bisa dapat Rp 200 ribu. Betul itu," ujarnya.
Termasuk pada momentum Pilkada ini dia juga menggantungkan harapan kepada bupati yang kelak akan memimpin. Dia berharap siapa pun sosok pemimpin nanti mampu memperjuangkan nasib para guru. Mujai sangat menanti pemerintah mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap nasib guru honorer di Kebumen. "Kami minta dikawal betul. Mau bagaimana teman-teman guru yang non ASN," tandas Mujai.
Salah satu guru Fajar Triwahyuni mengatakan, kondisi guru honorer memang cukup memperihatinkan. Dia menyebut nominal gaji yang diterima dalam satu bulan bahkan tidak kurang dari Rp 400 ribu. Kendati begitu, ia tetap sabar sembari mengadu nasib dengan ikut seleksi guru P3K. "Faktanya seperti itu. Gaji cuma buat beli bensin. Pas musim hajatan bingung, mau kondangan pakai duit apa," bebernya. (fid)
Editor : Heru Pratomo