Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Anies Baswedan di Masjid Al Hayat UGM: Jangan Hanya Lancar Baca Tulisan tapi Gagal Baca Kenyataan

Heru Pratomo • Kamis, 5 Maret 2026 | 21:02 WIB

Anies Baswedan di Masjid Al Hayat UGM
Anies Baswedan di Masjid Al Hayat UGM

YOGYAKARTA – Di tengah gempuran arus informasi yang melimpah, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi keterbatasan akses pada teks, melainkan kedangkalan dalam memaknai realitas. Pesan reflektif ini disampaikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, dalam ceramah tarawih di Masjid Al Hayat, Fakultas Biologi UGM, Rabu malam (4/3).

Anies menekankan bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis kejernihan berpikir. Ia membagi fenomena "buta huruf" menjadi dua golongan yang sangat kontras.

"Pertama, golongan buta huruf karena gagal membaca teks. Namun, ada golongan kedua yang jauh lebih berbahaya: mereka sangat lancar membaca tulisan, tapi gagal membaca kenyataan," ujar Anies di hadapan jemaah. "Akibatnya, banyak pemimpin gagal membuat kebijakan, bahkan gagal mendengar jeritan rakyatnya sendiri."

Menurut Anies, perintah Iqra (Bacalah) dalam Islam harus diposisikan melampaui literasi tekstual. Iqra seharusnya menjadi instrumen untuk mengasah empati dan ketajaman nurani dalam melihat kondisi sosial.

Ia memberikan kritik tajam bagi mereka yang hanya melihat realitas dari balik meja birokrasi.

“Jangan mau membaca kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan hanya dari ruang konferensi pers. Membacalah dari dapur-dapur keluarga, dari antrean berobat yang panjang, dan dari kecemasan orang tua yang menanti masa depan sekolah anaknya,” tegas Rektor Universitas Paramadina (2007-2015) tersebut.

Berbicara di lingkungan kampus, Anies juga menyoroti peran mahasiswa dan institusi pendidikan. Ia menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nyala api berpikir kritis.

“Kampus seharusnya menjadi rumah bagi pertanyaan, bukan pabrik kepatuhan. Kampus adalah ruang eksperimen, bukan sekadar gudang untuk menyimpan ilmu masa lalu,” ungkapnya.

Bagi Anies, jika ekosistem kampus hanya dibiasakan untuk menghafal tanpa menguji gagasan, maka roh Iqra yang sebenarnya belum hidup. Ia mengajak anak muda untuk berani membawa kebaruan sudut pandang dan menangkap fenomena sosial yang relevan dengan perubahan dunia.

“Anak muda itu kodratnya memandang ke depan. Daya kritis mereka adalah kunci lahirnya inovasi bagi bangsa ini,”

Editor : Heru Pratomo
#Anies Baswedan #masjid #UGM