Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Nikmati Spageti di Tengah Puing Sekolah, Ironi Program MBG di SD Kepek 1 Saptosari yang Rusak Parah

Yusuf Bastiar • Jumat, 17 April 2026 | 20:33 WIB
Siswa SD Kepek 1 Saptosari sedang menyantap menu MBG tepat di depan gedung perpustakaan yang rusak parah.
Siswa SD Kepek 1 Saptosari sedang menyantap menu MBG tepat di depan gedung perpustakaan yang rusak parah.

 

 

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Program makan bergizi gratis (MBG) di SD Kepek 1 Saptosari berjalan seperti biasa pada Jumat pagi (17/4). Sekitar pukul 09.00, ratusan siswa tampak duduk lesehan di pelataran ruang kelas sambari membuka ompreng berisi menu spageti. Mereka makan dengan riang dan saling bercengkerama.

Namun, pemandangan kontras tersaji tepat di depan mata. Tiga bangunan sekolah yang dulu digunakan sebagai ruang belajar dan perpustakaan berdiri dengan kondisi rusak parah. Bahkan, ada satu bangunan yang sama sekali tak memiliki atap.

Di tengah suasana itu, para siswa tetap menjalani aktivitas sekolah. Sebagian mengikuti pembelajaran, sebagian yang lain bersiap menghadapi tes kemampuan akademik (TKA).

Baca Juga: Ahmad Luthfi Kumpulkan 576 Camat, Bupati dan Wali Kota, Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kecamatan

Namun, keseharian belajar mereka di ruang kelas selalu dibayangi ancaman kerusakan bangunan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan keselamatan. 

Kepala sekolah SD Kepek 1 Marsum mengatakan, sekolah yang berada di Padukuhan Bulurejo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Saptosari itu memiliki 12 ruangan. Dari jumlah tersebut, lima ruangan kini tidak dapat difungsikan karena rusak berat. Hampir separuh ruangan tidak bisa dipakai. Sedang ruangan yang tersisa juga atapnya rawan ambrol. Kerusakannya terutama di bagian plafon dan usuk.

“Tembok masih bagus, tapi kalau hujan berisiko ambrol,” ujarnya sembari menunjuk salah satu atap ruang kelas yang ambrol, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga: Kisah Hadi dan Sutiyah; Penjual Jamu Boyolali yang Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung

Menurut dia, satu ruangan bekas perpustakaan dan dua ruang kelas sudah tidak digunakan sejak tiga tahun terakhir. Kondisi itu dilakukan demi menghindari risiko kecelakaan bagi siswa maupun guru. Bahkan, satu bangunan perpustakaan ambruk total sekitar setahun lalu saat malam hari. Ketiga bangunan tersebut menyambung berjejeran.

Saat Radar Jogja memasuki dua ruang kelas, kondisinya memang sudah tidak layak. Sebagian besar atapnya sudah ambrol, hanya menyisakan kerangka yang tertutup genteng. “Tahun lalu robohnya malam hari. Kalau saat jam pelajaran, tentu sangat berbahaya bagi anak-anak,” katanya.

Marsum menjelaskan, sejak awal 2026 sekolah hanya menyisakan tujuh ruangan dan satu mushola. Satu ruangan digunakan sebagai kantor guru, sementara enam lainnya dipakai untuk kegiatan belajar mengajar kelas 1 hingga kelas 6. Namun, pada Februari lalu atap ruang kelas 6 kembali ambrol.

Baca Juga: Keteguhan niat dan kesabaran luar biasa ditunjukkan oleh pasangan suami istri asal Dukuh PlosoKisah Hadi dan Sutiyah; Penjual Jamu Boyolali yang Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung

Akibatnya, siswa kelas 6 dipindah ke ruang kelas 2. Sedangkan siswa kelas 2 terpaksa belajar di mushola dengan alas tikar. “Pembelajaran di musala dimulai setelah libur Lebaran akhir Maret. Yang penting anak-anak tetap bisa belajar meskipun harus lesehan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ruang kelas 1 yang kini digabung dengan perpustakaan juga sudah tidak memiliki plafon. Sejumlah ruangan lain yang masih dipakai pun dinilai rawan mengalami kerusakan serupa. Sekolah tersebut saat ini menampung 148 siswa dengan 14 guru dan karyawan.

Menurut Marsum, keterbatasan ruang dan ancaman bangunan rusak sangat mengganggu proses belajar mengajar. Anak-anak juga dilarang bermain di sekitar bangunan rusak karena khawatir tertimpa material bangunan. “Kami sudah melaporkan kondisi ini ke dinas pendidikan melalui WhatsApp. Harapan kami segera ada penanganan,” tandasnya.

Baca Juga: Wamendagri Bima Arya Tegaskan WFH Bukan Opsi tapi Wajib

Sementara itu, Guru Bahasa Jawa SD Kepek 1 Ananda Putra mengaku, para guru kerap diliputi rasa was-was saat mengajar. Terutama ketika hujan turun deras. “Kami sering mendengar suara retakan plafon. Kalau hujan deras air merembes dan kondisi makin mengkhawatirkan. Sangat waswas saat mengajar,” terangnya.

Ia menambahkan, sebelum ruang kelas 6 ambrol, guru-guru sebenarnya sudah berupaya memperbaiki beberapa ruangan lain secara swadaya agar tetap aman dipakai. Namun karena kerusakan cukup banyak, tidak semua ruang kelas bisa tertangani.

Di tengah keterbatasan sarana, lanjut dia, para siswa tetap datang ke sekolah dan menjalani aktivitas belajar seperti biasa. Ananda gusar, sebab dibalik semangat belajar muridnya, tersimpan persoalan serius tentang keselamatan dan kelayakan fasilitas pendidikan yang mendesak untuk segera dibenahi.

“Semoga lekas bisa diperbaiki oleh pemerintah,” ungkapnya. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#spageti #sd kepek 1 saptosari #Gunungkidul #sekolah rusak #Mbg