MAGELANG - Ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia maupun mancanegara tumpah ruah di Candi Mendut.
Sebelum kirab, para biksu dan umat Buddha membaca paritta, mantra, dan sutra terlebih dahulu di altar utama Candi Mendut. Barulah sekitar pukul 14.00, kirab dimulai dengan berjalan menyusuri Jalan Mayor Kusen, melewati simpang tugu Soekarno-Hatta menuju Jalan Bala Putera Dewa, dan masuk ke kompleks candi melalui pintu 7.
Kirab ini dilakukan untuk mengiringi api dharma dan air berkah yang sebelumnya telah disakralkan di Candi Mendut.
Selain itu, terdapat sejumlah mobil hias dan personel marching band. Lalu, disusul oleh pembawa bendera, hasil bumi, para biksu, hingga umat Buddha. Sembari berjalan, mereka kompak membawa bunga sedap malam.
Sepanjang jalur itu, banyak warga yang sudah berjajar memenuhi sisi kanan-kiri jalan raya. Mengingat perayaan Waisak ini menjadi satu momentum yang dinanti-nantikan oleh warga setempat. Mereka tidak lupa mengabadikan momentum satu tahun sekali itu melalui ponsel masing-masing.
Baca Juga: Jelang Detik-Detik Waisak, Akan Terbangkan 450 Drone di Candi Borobudur
Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Supriyadi mengatakan, hari ini seluruh umat Buddha dari berbagai majelis agama berkumpul untuk mengikuti perayaan Waisak di Candi Borobudur. "Ini bukan sekadar perjalanan seperti pawai atau kirab biasa, tapi ada pesan-pesan keagamaan dalam perjalanan itu," bebernya, Senin (12/5).
Setiap langkah yang ditempuh pada meditasi berjalan itu, kata dia, dilakukan sembari merenungkan kebenaran luhur dari ajaran Sang Buddha. Untuk itu, dia mewanti-wanti agar seluruh umat dapat melakukan perjalanan dengan sebaik-baiknya dan penuh kesadaran.
Baca Juga: Respon terhadap Lakajol, Jasa Raharja Berikan Santunan kepada Sebelas Ahli Waris Korban Kecelakaan Kalijambe, Purworejo
Dia berharap, kirab yang dilakukan dengan berjalan kaki itu membuat umat bisa merenungkan kebajikan Buddha, Dhamma, dan Sangha. Menurutnya, ketika hal itu bisa dijalankan dengan baik, akan timbul kebahagiaan dan rasa lelah akan hilang.
Dia bersyukur, antusiasme umat Buddha untuk mengikuti kirab Waisak ini sangat tinggi. Begitu kirab tiba di Candi Borobudur, seluruh persembahan puja akan diletakkan di altar. Seperti air, api, bunga, dupa, dan pelita. "Harapan saya, semuanya yang hadir di sini mendapatkan berkah dari Tri Suci Waisak," ucapnya.
Baca Juga: Kejar Target Penyerapan Karbon Bersih dari Sektor Kehutanan, Indonesia-Inggris Kerja Sama dalam Perhutanan Sosial
Umat Buddha dari Sangha Mahayana Tanah Suci, Biksu Dwi Virya Shavira mengutarakan, kirab ini merupakan simbol perjalanan hidup dari lahir hingga meninggal, yang diwarnai dengan lika-liku. "Prosesi kirab ini juga merupakan simbol perenungan dari perjalanan serta keagungan Sang Buddha," paparnya.
Sementara itu, warga Rambeanak, Mungkid Nawang mengaku, sengaja datang ke simpang tugu Soekarno-Hatta untuk menyaksikan kirab Waisak. "Ramai. Saya setiap tahun juga nonton karena ini momen satu tahun sekali, jadi kami tidak mau melewatkannya meskipun harus berdesak-desakan," katanya. (aya)