Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Resep Turun-temurun, Tetap Gunakan Oman Bakar, Dawet Jembatan Butuh Jadi Sasaran Pelancong sejak 1960

Muhammad Hafied • Kamis, 13 November 2025 - 03:00 WIB

 

JADI JUJUKAN: Wagiman, 46, penjual es dawet hitam di seberang Jembatan Butuh sibuk melayani pelancong yang ingin mencicipi es dawet khas Purworejo Rabu (12/11).
JADI JUJUKAN: Wagiman, 46, penjual es dawet hitam di seberang Jembatan Butuh sibuk melayani pelancong yang ingin mencicipi es dawet khas Purworejo Rabu (12/11).

 

 

PURWOREJO – Dari luar tampilan warungnya terlihat biasa saja. Hanya berwujud bangunan sederhana. Tak ada kursi empuk, apalagi ruangan ber-AC. Tapi siapa sangka, warung es dawet Jembatan Butuh selalu ramai pengunjung.

Siang itu langit Purworejo tampak cerah. Mendung mulai menyingkir setelah seharian hujan mengguyur. Cuaca yang pas untuk menikmati kesegaran es dawet ireng (hitam) di area Jembatan Butuh. Hanya berjarak 100 meter sebelum jembatan dari arah timur.

Benar saja, ruang parkir di pinggir warung sudah sesak dengan kendaraan roda empat kemarin (12/11). Berada persis di tepi jalur nasional, suara raungan knalpot dan deru mesin kendaraan jadi pengiring santap es dawet legendaris tersebut.

Mayoritas pembeli, bukanlah warga lokal. Mereka adalah pelancong yang sekadar mampir melepas dahaga. Ada juga sebagian yang datang untuk menggugurkan rasa penasaran. "Karena pinggir jalan raya, mayoritas yang ke sini musafir. Cari kuliner khas Purworejo," kata Wagiman, penjual es dawet Jembatan Butuh kepada Radar Purworejo Rabu (12/11).

Es dawet hitam ini memang cukup terkenal. Karena sudah melayani pelanggan sejak tahun 1960. Sekarang usaha tersebut diteruskan secara turun temurun. Wagiman adalah generasi penerus ketiga. "Yang jualan saya sama ponakan. Kami tidak buka cabang karena pesan orang tua kepenginnya usaha kumpul," ucap Wagiman.

Selama itu pula, dia mewarisi resep atau racikan es dari kakek dan orang tuanya. Satu dari sekian banyak bahan yang tetap dipertahankan ialah tepung sagu. Tepung ini digunakan sebagai bahan utama dawet. Selain itu ada abu dari sekam padi atau oman bakar sebagai pewarna alami dawet.

Perpaduan ini menghasilkan tekstur dawet yang kenyal dan lembut. Bahkan tidak ada rasa aneh karena menggunakan sekam padi. Cita rasa akan semakin lengkap saat dilengkapi dengan gurih dari santan kenta. Ditambah rasa manis dari sirup gula merah. "Resepnya tidak ubah dari dulu. Pakai bahan alami semua. Es juga buat sendiri," ungkapnya.

Selain rasaya yang khas, es dawet tersebut dikenal karena namanya yang unik. Masyarakat banyak yang menyebut Es Dawet Jembut Kecabut. Sekilas terkesan jorok memang, tapi nama tersebut sebuah akronim dari es dawet Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh.

Setiap hari warung es dawet ini menghabiskan sedikitnya satu kilogram tepung sagu sebagai bahan utama. Cukup merogoh kocek Rp 6 ribu, masyarakat yang datang sudah bisa mencicipi kuliner khas yang berada di ujung barat Kabupaten Purworejo. "Baru pertama ke sini. Kebetulan dikasih info saudara harus berhenti dulu nyicipi dawet. Rasanya beda sama dawet lain," kata Umi Maskuroh, pelancong dari Madura. (fid/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#oman bakar #Es Dawet Jembut Kecabut #Kecamatan Butuh #jembatan butuh #sekam padi #es dawet Jembatan Butuh #Purworejo #Es Dawet Ireng