RADAR PURWOREJO - Dampak bencana banjir bandang yang dahsyat di November 2025 lalu masih membayangi Pulau Sumatera.
Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan dampak luar biasa besar hingga saat ini.
Hingga Selasa (27/1/2026), Laporan BNPB tercatat jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 1.204 jiwa
Hal ini menjadikan bencana ini sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia.
Tak hanya merenggut ribuan nyawa, bencana tersebut juga memaksa 111,8 ribu warga meninggalkan rumah mereka dan bertahan di pengungsian.
Di tengah keterbatasan logistik dan akses yang belum sepenuhnya pulih, sebanyak 140 orang hingga kini masih dinyatakan hilang, memperpanjang deretan duka keluarga yang menanti kabar kepastian.
Skala kerusakan yang ditinggalkan bencana ini sangat luas.
Sedikitnya 53 kabupaten dan kota di tiga provinsi terdampak langsung.
Sebanyak 247.949 rumah dilaporkan rusak, mulai dari kerusakan ringan hingga hancur total.
Banyak permukiman berubah menjadi hamparan lumpur, puing, dan kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang.
Kerusakan juga melumpuhkan fasilitas publik vital.
Tercatat 215 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, mengganggu layanan medis bagi warga yang selamat.
Sektor pendidikan ikut terpukul, dengan 4.546 fasilitas pendidikan rusak, memaksa ribuan siswa kehilangan ruang belajar.
Selain itu, 803 rumah ibadah terdampak, memperparah beban psikologis masyarakat yang kehilangan tempat bernaung sekaligus ruang spiritual.
Infrastruktur transportasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan bencana.
Sebanyak 866 jembatan terdampak, sementara 2.165 ruas jalan mengalami kerusakan.
Kondisi ini menyebabkan distribusi bantuan ke sejumlah wilayah, khususnya daerah pegunungan dan terpencil, berjalan lambat dan penuh hambatan.
Bencana hidrometeorologi ini dipicu oleh hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Sumatra dalam waktu panjang.
Curah hujan tinggi memicu longsor di kawasan perbukitan sekaligus banjir bandang di daerah aliran sungai, menghantam permukiman warga tanpa banyak waktu untuk menyelamatkan diri.
Hingga kini, upaya penanganan masih terus dilakukan, mulai dari pembersihan material bencana, pemulihan akses jalan, hingga pembangunan hunian sementara bagi para penyintas.
Namun, besarnya wilayah terdampak dan tingkat kerusakan membuat proses pemulihan diperkirakan berlangsung panjang.
Lebih dari sekadar angka statistik, bencana ini menyisakan luka mendalam bagi masyarakat Sumatra.
Ribuan keluarga kehilangan orang tercinta, ratusan ribu lainnya kehilangan rumah dan mata pencaharian.
Di tengah upaya bangkit, Sumatra masih berjuang keluar dari bayang-bayang bencana yang mengubah kehidupan warganya secara drastis. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva